Strategi Deposito Bank Digital Hadapi Lonjakan BI Rate Tahun 2026

Strategi Deposito Bank Digital Hadapi Lonjakan BI Rate Tahun 2026
Ilustrasi Bank Digital (sumber foto: NET)

JAKARTA - Sejumlah penyedia jasa perbankan digital kini tengah menyusun langkah antisipasi guna menghadapi aneka tantangan serta risiko akibat lonjakan suku bunga acuan BI Rate yang bergerak masif belakangan ini. Salah satu strategi yang dieksekusi oleh manajemen adalah dengan tidak mendongkrak tingkat suku bunga deposito mereka. 

Kebijakan ini sengaja diambil demi mengamankan porsi margin keuntungan perusahaan. Padahal, platform digital selama ini sangat terkenal dengan tawaran bunga simpanan tinggi sebagai taktik utama untuk menjaring dana dari masyarakat luas, namun skema tersebut kini mulai disesuaikan di tengah tingginya ketidakpastian pasar.

Krom Bank menjadi salah satu pelaku industri yang menerapkan kebijakan penyesuaian tersebut. Saat ini, tingkat keuntungan bunga deposito yang mereka tawarkan berada pada rentang angka 6,5 persen hingga 8 persen. Persentase penawaran ini tercatat mengalami penurunan karena pada periode menjelang akhir tahun lalu, tingkat bunga deposito dari bank digital ini masih bertengger di level 7 persen sampai 8,25 persen.

Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa proses transmisi dari penurunan suku bunga sepanjang tahun lalu telah berjalan di dalam perusahaan. Namun, ketika memasuki era suku bunga tinggi seperti sekarang, manajemen memilih untuk mempertahankan tarif bunga deposito yang berlaku saat ini sebagai langkah dalam penerapan strategi pengelolaan dana yang penuh dengan prinsip kehati-hatian.

“Krom Bank akan tetap melakukan benchmarking secara aktif terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri untuk menjaga keseimbangan antara daya saing penawaran dan keberlanjutan bisnis,” ungkap Anton. Di samping itu, demi mengamankan performa profitabilitas, proses pemantauan serta analisis mendalam mengenai dampak pergerakan BI Rate akan terus dijalankan bersamaan dengan upaya penguatan manajemen risiko.

Fokus bisnis perusahaan saat ini difokuskan pada penghimpunan dana murah atau current account saving account melalui penguatan ekosistem digital internal yang telah dibangun. Pada saat yang sama, penyelarasan internal juga diaplikasikan untuk menekan risiko timbulnya kredit macet dengan tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian serta manajemen risiko yang ketat dalam menyalurkan pinjaman baru.

Potensi penurunan rasio margin bunga bersih atau net interest margin juga ikut dicermati sebagai imbas dari kebijakan bank sentral yang mengerek suku bunga acuan. Oleh karena itu, prioritas kerja diarahkan pada efisiensi biaya dana agar margin bunga tetap stabil, sehingga penawaran suku bunga kredit yang diberikan kepada nasabah bisa tetap kompetitif di pasar.

Langkah serupa turut dijalankan oleh Allo Bank yang memilih untuk menahan tingkat suku bunga deposito mereka di kisaran angka 5,5 persen sejak periode akhir tahun lalu. Pihak manajemen mengonfirmasi bahwa mereka belum melihat adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah atau menyesuaikan tingkat bunga simpanan secara agresif dalam jangka waktu dekat.

Evaluasi secara menyeluruh terus diaplikasikan dengan mengukur kondisi likuiditas internal, pola perilaku para nasabah, peta persaingan pendanaan di pasar, hingga target pertumbuhan penyaluran kredit ke depan. “Because of that, pendekatan yang kami ambil adalah tetap fleksibel dan berbasis kebutuhan bisnis, bukan sekadar merespons perubahan BI Rate secara otomatis,” jelasnya.

Jika nantinya korporasi memutuskan untuk melakukan penyesuaian tarif bunga simpanan, skema tersebut akan dijalankan secara bertahap serta selektif berdasarkan jangka waktu tenor atau segmentasi konsumen. Skala perubahan dan waktu eksekusinya akan sangat bergantung pada dinamika likuiditas industri keuangan serta volume kebutuhan pendanaan internal bank, mengingat risiko ketatnya perebutan dana di sektor digital tetap diwaspadai.

Walau demikian, situasi industri saat ini dipandang berbeda jika dibandingkan dengan kondisi pada beberapa tahun yang lalu. Likuiditas sektor perbankan dinilai masih berada dalam porsi yang memadai, ditambah dengan laju pertumbuhan dana pihak ketiga yang secara umum dinilai sanggup mengimbangi kebutuhan ekspansi kredit, sehingga risiko pengetatan likuiditas jangka pendek belum mengkhawatirkan.

Kenaikan biaya dana memang disadari memiliki potensi untuk memberikan tekanan pada rasio margin bunga bersih. Namun, tata kelola keuntungan perusahaan dipastikan tidak hanya bertumpu pada sektor pendanaan belaka, melainkan lewat optimalisasi struktur aset produktif, peningkatan mutu kualitas kredit, perbaikan risk-adjusted return, serta mendorong pertumbuhan pendapatan berbasis komisi dari aktivitas transaksi digital.

“Jadi apabila terjadi tekanan terhadap NIM, kami memperkirakan sifatnya akan tetap terkendali dan berada dalam koridor yang dapat dikelola. Fokus kami bukan semata mempertahankan NIM pada level tertentu, tetapi memastikan keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas yang berkelanjutan,” katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index