Asing Lepas Saham Bank, Net Sell BMRI Rp 699,9 Miliar Sepekan

Sabtu, 19 September 2026 | 11:34:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — Investor asing mencatat aksi jual bersih pada saham bank-bank besar sepanjang pekan ini, dengan BMRI menjadi yang terbesar mencapai Rp 699,9 miliar. Tekanan jual itu menekan harga saham perbankan meski likuiditas sektor ini masih ditopang penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun.

Empat bank jumbo kompak berada di zona merah selama sepekan perdagangan. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) memimpin pelemahan dengan penurunan 2,41% ke level Rp3.650 per saham per Jumat (18/9/2026).

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menyusul dengan koreksi 2,07% menjadi Rp4.260 per saham. Sementara PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 0,79% ke Rp6.300 per saham, atau melemah 0,4% dalam lima hari perdagangan.

Berbeda dari tiga bank lainnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) justru masih mencatat kenaikan 1,22% secara sepekan. Meski begitu, harga sahamnya tetap turun 0,6% ke Rp3.310 per saham.

Asing Paling Banyak Lepas BMRI

Arus dana asing memperkuat gambaran tekanan terhadap sektor perbankan. BMRI mencatat net sell terbesar, yakni sekitar Rp 699,9 miliar sepanjang pekan.

BBCA menyusul dengan aksi jual bersih sekitar Rp 631,1 miliar. BBNI dan BBRI masing-masing mencatat net sell Rp 204,4 miliar dan Rp 176 miliar.

Angka-angka itu menunjukkan investor asing cenderung mengurangi eksposur di saham bank besar, meski tidak semua emiten mengalami tekanan yang sama besarnya.

Dana SAL Rp 200 Triliun Jadi Penopang

Di tengah aksi jual tersebut, likuiditas perbankan masih mendapat dukungan dari kebijakan pemerintah. Pemerintah memastikan dana sebesar Rp 200 triliun tetap ditempatkan di perbankan hingga Juli 2027.

Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menyatakan kebijakan itu merupakan kelanjutan komunikasi pemerintah dengan Bank Indonesia (BI) dan perbankan.

"Intinya, akhir tahun tetap sampai Rp 200 triliun dan diperpanjang sampai Juli tahun depan," ujar Juda dalam konferensi pers APBN KiTA Edisi September 2026, Jumat (18/9/2026).

Penempatan dana pemerintah di bank-bank tersebut berfungsi sebagai bantalan likuiditas. Dengan begitu, kemampuan perbankan menyalurkan kredit tidak langsung terganggu oleh gejolak di pasar saham.

Tekanan Jual Belum Tentu Berlanjut

Bagi investor ritel, pelemahan harga saham bank besar bisa menjadi momen mencermati valuasi. Koreksi sepekan ini menurunkan harga sejumlah emiten dari level puncaknya.

Namun aksi jual asing perlu dicermati karena biasanya dipengaruhi faktor global, seperti ekspektasi suku bunga acuan Amerika Serikat dan pergerakan yield obligasi. Arus keluar dana asing dari saham perbankan Indonesia kerap mengikuti pola itu.

Yang perlu diingat, net sell asing tidak selalu mencerminkan buruknya fundamental emiten. Dalam beberapa kasus, aksi itu lebih menggambarkan pergeseran alokasi portofolio jangka pendek.

Dengan dana SAL Rp 200 triliun yang bertahan hingga pertengahan 2027, fondasi likuiditas perbankan relatif terjaga. Pertanyaannya kini, apakah tekanan jual asing berlanjut pekan depan atau justru berbalik arah seiring membaiknya sentimen pasar.

Terkini