Potensi Tekanan Rupiah Usai The Fed Naik Bunga

Jumat, 18 September 2026 | 23:12:59 WIB
Naiknya suku bunga The Fed diproyeksikan memberikan tekanan terhadap mata uang emerging markets, termasuk rupiah. ( sumber : net )

JAKARTA - Otoritas Bank Sentral AS alias The Federal Reserve mengambil langkah resmi guna mendongkrak suku bunga acuan senilai 25 basis poin (bps) hingga mencapai posisi 3,75–4 persen di dalam agenda pertemuan hari Rabu (16/9/2026), yang menandai momen kenaikan perdana sejak Juli 2023.

Berbagai proyeksi mengindikasikan bahwa ketetapan tersebut bakal memicu hantaman tekanan terhadap segenap mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), tidak terkecuali rupiah.

“Kenaikan suku bunga Federal Reserve sebesar 25 bps menjadi 3,75–4,00 persen tampak kecil. Dampaknya bagi rupiah justru dapat jauh lebih besar daripada angka itu,” kata Ekonom dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi dalam keterangannya, Kamis (17/9/2026) dari Sumbernya.

Lebih lanjut, Syafruddin memaparkan bahwa poin krusial yang patut diwaspadai ialah fakta bahwa The Federal Reserve bukan sekadar menaikkan besaran suku bunga, melainkan turut memandang aspek inflasi sebagai bentuk tekanan yang jauh lebih meluas serta persisten.

“Sebanyak 16 dari 18 pembuat kebijakan memperkirakan setidaknya satu kenaikan lagi sebelum akhir 2026. Inilah tesis utamanya: ancaman bagi rupiah bukan satu Fed hike, melainkan perubahan rezim dari higher-for-longer menjadi higher-again,” jelasnya dari Sumbernya.

Dirinya menambahkan pula bahwa pokok permasalahan berpijak pada ramuan kondisi yang kurang menguntungkan bagi kawasan emerging markets.

Angka inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat diperkirakan berada pada kisaran 3,7 persen sepanjang tahun 2026 dan baru sanggup menyusut kembali ke sasaran target 2 persen pada tahun 2029, di sisi lain pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil justru dipatok sebesar 2,3 persen disertai tingkat pengangguran di angka 4,1 persen.

“Ketua Fed Kevin Warsh menilai belanja domestik tetap tangguh, produktivitas kuat, investasi modal robust, dan pasar tenaga kerja menguat. Artinya, ekonomi AS masih cukup kuat untuk menanggung pengetatan. Paradoksnya, kekuatan ekonomi AS dapat menjadi sumber tekanan eksternal bagi Indonesia,” ungkapnya dari Sumbernya.

Syafruddin lantas menguraikan bahwa mekanisme penularan tersebut bekerja lewat jalur pergerakan harga instrumen keuangan global.

Manakala pihak The Fed menaikkan tingkat suku bunga disertai ekspektasi pasar akan adanya kelanjutan kenaikan, daya tarik imbal hasil kepemilikan aset berbasis dolar menjadi semakin memikat.

Sebagai catatan, besaran yield treasury berjangka waktu 10 tahun terpantau berada di sekitar level 4,96 persen tepat seusai pengumuman keputusan The Fed tersebut rilis.

“Investor kemudian membandingkan return aset rupiah dengan aset dolar setelah memperhitungkan risiko kurs. Jika selisih return menyempit sementara risiko rupiah meningkat, modal global tidak perlu mengambil risiko tambahan di Indonesia,” ujarnya dari Sumbernya.

“Dolar menguat, permintaan lindung nilai meningkat, dan tekanan terhadap rupiah dapat membesar. Karena itu, perubahan ekspektasi jalur Fed dapat memengaruhi rupiah bahkan sebelum kenaikan berikutnya benar-benar diumumkan kepada pasar,” lanjutnya dari Sumbernya.

Bertolak dari situasi tersebut, Syafruddin menuturkan bahwa gelombang tekanan nyatanya tidak berhenti hanya pada ranah pasar valuta asing semata.

Penyusutan nilai tukar rupiah turut mendongkrak potensi imported inflation sekaligus mereduksi ruang gerak Bank Indonesia (BI) guna menerapkan pelonggaran kebijakan.

Perlu diketahui bahwa pada bulan Agustus lalu, BI sempat memutuskan untuk mempertahankan posisi suku bunga acuan atau BI Rate pada level 5,75 persen dengan berlandaskan pertimbangan stabilitas rupiah, pengendalian inflasi, serta aspek pertumbuhan.

“Jika tekanan eksternal menguat, BI menghadapi trade-off: mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga daya tarik aset rupiah, atau memberi dukungan lebih besar kepada kredit dan pertumbuhan domestik. Pilihan pertama menahan aktivitas, pilihan kedua dapat memperbesar tekanan kurs,” terangnya dari Sumbernya.

Di samping itu, Syafruddin mengingatkan bahwa dampak ikutan pada lapisan kedua memegang peranan yang jauh lebih esensial.

Kebijakan pengetatan The Fed berpotensi mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN) lantaran para investor menuntut kompensasi imbalan yang lebih tinggi guna menutupi risiko fluktuasi kurs serta suku bunga.

Muaranya, beban pendanaan negara ikut membengkak, ongkos modal korporasi swasta merangkak naik, penyaluran kredit menjadi semakin mahal, hingga proyek-proyek investasi berbunga tipis mulai kehilangan tingkat kelayakannya.

“Rantai transmisinya jelas: Fed hike mendorong return dolar, memperketat arus modal, menekan rupiah, membatasi ruang BI, menaikkan biaya dana, lalu mengurangi momentum investasi dan pertumbuhan,” tegasnya dari Sumbernya.

Terkini

Jumlah Investor Pasar Modal OJK Malang Capai Ratusan Ribu

Jumat, 18 September 2026 | 23:12:59 WIB

Kisah Sukses UMKM Sapu Ijuk Berkat KUR BNI

Jumat, 18 September 2026 | 23:12:59 WIB

Literasi Keuangan BPJS TK dan BNI

Jumat, 18 September 2026 | 23:12:59 WIB

Kinerja Keuangan BNI Periode Agustus 2026

Jumat, 18 September 2026 | 23:12:59 WIB

Potensi Tekanan Rupiah Usai The Fed Naik Bunga

Jumat, 18 September 2026 | 23:12:59 WIB