JAKARTA - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mengungkap keuntungan dan kerugian pengusaha di tengah melemahnya nilai tukar rupiah hari ini, Kamis (17/9/2026).
Pengusaha sekaligus Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam menilai, melemahnya rupiah memang cukup memberatkan bagi pelaku usaha yang bahan bakunya masih impor, sementara pasarnya domestik.
"Itu sangat berat sekali karena selama setahun rupiah sudah terdepresiasi hampir 8 hingga 9 persen, terus terang sangat memberatkan bagi perusahaan-perusahaan yang seperti bahan bakunya impor, penjualannya domestik," ungkap Bob ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (17/9/2026) dari Sumbernya.
Oleh karena itu, banyak pengusaha yang terpaksa meningkatkan efisiensi agar biaya produksi yang meningkat akibat rupiah melemah bisa teratasi, terutama melalui peningkatan produktivitas.
Namun, Apindo menilai, melemahnya rupiah justru menjadi keberuntungan bagi perusahaan-perusahaan di bidang ekspor.
"Di lain sisi juga dengan rupiah yang melemah ini sebenarnya Indonesia menjadi menarik ya, untuk investor-investor asing masuk yang bertujuan ekspor karena rupiah melemah itu berarti kan biaya produksinya juga turun," ucap Bob dari Sumbernya.
Jadi, pengusaha bisa memanfaatkan pelemahan rupiah ini untuk meningkatkan daya saing, sehingga investasi bisa masuk.
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot dibuka tertekan pada perdagangan Kamis (17/9/2026).
Kurs rupiah berada pada level Rp 17.725 per dollar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data dari Bloomberg, mata uang garuda terdepresiasi 29 poin atau 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada pada posisi Rp 17.696 per dollar AS.