FINANSIALFOKUS.COM — Marvell memperluas kemitraan dengan GlobalFoundries untuk meningkatkan produksi wafer silikon germanium (SiGe) di pabrik Burlington, Vermont. Langkah ini menargetkan lonjakan permintaan komponen optik yang dipicu ledakan infrastruktur AI. Kemitraan tersebut menjadi salah satu fondasi bagi ambisi Marvell menyandang status perusahaan bernilai triliunan dolar.
GlobalFoundries mengumumkan perluasan kerja sama dengan Marvell dalam produksi wafer SiGe di fasilitasnya di Burlington, Vermont. Teknologi SiGe banyak dipakai untuk membuat transceiver optik, komponen yang mengubah sinyal listrik menjadi sinyal optik dan sebaliknya. Komponen serupa juga digunakan pada modul laser di berbagai switch kelas atas, termasuk produk Nvidia.
Kapasitas tambahan dari lini produksi tersebut akan mendukung pembuatan near-packaged optics (NPO) dan co-packaged optics (CPO), serta perangkat optik pluggable generasi berikutnya. Nvidia sendiri sudah memakai CPO pada sejumlah switch Spectrum Ethernet dan Quantum InfiniBand untuk menekan konsumsi daya sekaligus meningkatkan keandalan.
Dorongan dari Ambisi Triliunan Dolar Marvell
Perluasan kemitraan ini muncul tak lama setelah CEO Nvidia Jensen Huang menyebut teknologi optik Marvell bakal mengantar perusahaan itu menjadi perusahaan bernilai triliunan dolar. Marvell pun bergerak mengamankan sisi pasokan untuk mewujudkan proyeksi tersebut.
CEO Marvell Matt Murphy, dalam paparannya di ajang Computex, menjelaskan mengapa permintaan teknologi optik bakal meledak. Selama ini optik terutama dipakai menghubungkan rak server ke sumber daya di seluruh pusat data. Koneksi dalam jarak beberapa meter masih bisa ditangani interkoneksi tembaga yang lebih murah dan hemat daya.
Namun kecepatan per lane terus naik, dari 25 Gbps ke 50, 100, hingga 200 Gbps. Pada titik itu, interkoneksi tembaga mulai menabrak batas jangkauan praktisnya. Kecepatan 400 Gbps per lane disebut sebagai ujung jalan bagi tembaga, bahkan di dalam satu rak saja.
Jangkauan Tembaga Makin Terbatas di Kecepatan Tinggi
Di atas 400 Gbps per lane, kabel tembaga tak lagi mampu membawa sinyal berkecepatan tinggi lebih dari 1,25 meter. Kondisi ini memaksa ekosistem industri beralih ke solusi optik untuk jarak yang sebelumnya masih bisa ditangani tembaga.
GlobalFoundries menyebut teknologi SiGe miliknya sudah tervalidasi hingga 200 Gbps per lane. Kecepatan itu dibutuhkan untuk transceiver 1,6 Tbps. Kecepatan lane yang lebih tinggi membuka peluang transceiver 3,2 Tbps, yang juga masuk dalam peta jalan perusahaan.
Permintaan teknologi optik melonjak berkat kebutuhan pusat data AI. Analis memperkirakan NPO akan dipakai pada sistem multi-rak berskala besar, seperti SuperPod berbasis Ascend 960DT milik Huawei. Sistem multi-rak Nvidia di masa depan juga diperkirakan mengadopsi NPO.
Nvidia Ikut Belanja Besar di Rantai Pasok Optik
GlobalFoundries bukan satu-satunya pemain yang menambah kapasitas. Nvidia telah menanamkan investasi miliaran dolar ke sejumlah perusahaan teknologi optik, termasuk USD 2 miliar masing-masing ke Lumentum dan Coherent.
Beberapa bulan setelah investasi itu, Coherent mengumumkan rencana menaikkan produksi wafer indium phosphide hingga empat kali lipat. Wafer jenis ini dipakai untuk laser, fotodetektor, dan modulator di fasilitas Coherent di Sherman, Texas.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini lebih berdampak pada rantai pasok global pusat data ketimbang konsumen langsung. Namun lonjakan kapasitas optik di Amerika Serikat turut menentukan kecepatan ekspansi infrastruktur AI di kawasan Asia, termasuk pembangunan pusat data di dalam negeri.