Sungai Kapuas Mengering, Tongkang Batu Bara Terlantar 3 Bulan di Sekadau

Jumat, 04 September 2026 | 09:50:00 WIB

FINANSIALFOKUS.COM — Pemandangan tak lazim terlihat di Kampung Sungai Raya, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau. Aliran Sungai Kapuas yang biasanya penuh air kini berubah menjadi hamparan pasir luas, mirip gurun. Warga setempat memanfaatkan daratan darurat itu untuk bersantai, berkumpul dengan keluarga, sampai menikmati matahari terbenam.

Di tengah pemandangan itu, sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara terlihat "terdampar". Berdasarkan unggahan akun Instagram @atr.drone, kapal tersebut sudah hampir tiga bulan tidak bisa berlayar karena kedalaman sungai terus menyusut.

Penyebab Kemacetan Logistik

Fenomena ini sempat memicu spekulasi di publik. Banyak yang menduga terhambatnya distribusi batu bara di Kalimantan karena ada pembatasan kuota produksi dari pemerintah.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, membantah keras isu tersebut. Ia menegaskan, masalah di lapangan terjadi karena faktor teknis, yakni menyusutnya debit air sungai.

"Enggak, itu ya bukan karena dibatasi produksinya karena air untuk ngalirin tongkangnya enggak ada air," ujarnya saat ditemui di sela acara The 12th Indonesia EBTKE ConEx 2026 di Jiexpo, Jakarta, Jumat (4/9/2026).

Yuliot mengaku sempat mengecek langsung kondisi di Kalimantan. "Justru karena sungainya mengering, tongkangnya enggak bisa jalan," imbuhnya.

Dampak bagi Industri dan Warga

Kemarau panjang yang melanda Kalimantan selama empat bulan terakhir membuat Sungai Kapuas tidak terguyur hujan sama sekali. Akibatnya, mobilisasi logistik pertambangan, terutama di Kalimantan Timur dan sekitarnya, ikut terganggu.

Kapal-kapal pengangkut batu bara yang tertahan terpaksa merapat dan menunggu hingga permukaan air kembali normal. Belum diketahui pasti kapan cuaca akan mendukung kelancaran pengiriman lewat jalur sungai.

Arus distribusi batu bara yang melambat otomatis memengaruhi rantai pasok energi nasional. Kalimantan merupakan salah satu lumbung batu bara terbesar di Indonesia, dan Sungai Kapuas berperan penting sebagai jalur transportasi menuju titik muat kapal besar.

Sementara itu, penyusutan sungai memberi berkah tersendiri bagi warga Sekadau. Hamparan pasir yang muncul menjadi lokasi wisata dadakan—tempat bebas berkumpul, bermain anak-anak, dan berfoto dengan latar kapal tongkang yang kandas. Pemandangan kontras antara daratan kering dan bangkai kapal raksasa itulah yang justru menarik perhatian pengunjung.

Memasuki pekan pertama September 2026, kondisi ini belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Warga berharap hujan segera turun agar aktivitas sungai kembali normal dan roda ekonomi—baik industri batu bara maupun masyarakat sekitar—bisa berjalan seperti sedia kala.

Terkini