BRI Raih Laba Rp31,2 Triliun & Salurkan Kredit UMKM

Rabu, 02 September 2026 | 13:05:11 WIB
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. ( SUMBER : NET )

SERPONG — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatatkan laba bersih sebesar Rp31,2 triliun sampai penghujung Triwulan II 2026.

Prestasi tersebut naik 17,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy) bila dibandingkan kurun waktu yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan laba itu ditopang performa bisnis yang kian solid, seiring kenaikan kredit serta pembiayaan, perbaikan mutu aset, serta meningginya efisiensi operasional perseroan.

Direktur Utama BRI dari Sumbernya menuturkan, pencapaian tersebut memperlihatkan transformasi yang dijalankan perseroan mulai memberi pengaruh terhadap penguatan fundamental serta kinerja keuangan.

“Yang kami dorong bukan sekadar pertumbuhan secara angka. BRI ingin memastikan setiap pertumbuhan dibangun di atas fundamental yang sehat, kualitas bisnis yang semakin baik, serta mampu memberikan dampak yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat,” kata Hery dalam pemaparan kinerja BRI di Jakarta, Minggu (31/8).

Secara konsolidasian, keseluruhan aset BRI sampai akhir Juni 2026 menyentuh Rp2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen yoy.

Sementara itu, kredit dan pembiayaan naik 16,2 persen yoy menjadi Rp1.646 triliun.

Ekspansi bisnis tersebut disokong himpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai Rp1.581 triliun atau meningkat 6,7 persen yoy.

Pendapatan bunga bersih atau net interest income pun naik 9,9 persen dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun.

Di sisi lain, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) BRI tercatat melonjak 12,8 persen yoy menjadi Rp65,7 triliun.

BRI pun mencatat perbaikan sejumlah indikator fundamental.

Cost of Fund (CoF) secara bank only merosot dari 3 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada kurun waktu yang sama tahun ini.

Efisiensi operasional turut membaik, ditandai dengan penurunan Cost to Income Ratio (CIR) dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) juga turun dari 3 persen menjadi 2,9 persen, sedangkan Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Return on Asset (ROA) BRI berada di kisaran 2,7 persen.

Sementara Return on Equity (ROE) naik dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.

Di tengah pertumbuhan bisnis yang semakin beragam, BRI tetap mempertahankan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai inti bisnis perseroan.

Sampai akhir Triwulan II 2026, kredit yang disalurkan kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen yoy.

Jumlah tersebut setara dengan 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Dari Sumbernya menegaskan, pengembangan pelbagai lini bisnis baru tidak akan menggeser peran UMKM sebagai fondasi utama pertumbuhan BRI.

“UMKM tetap menjadi bagian utama dari perjalanan BRI. Kami terus memperluas bisnis dan mencari sumber pertumbuhan baru, namun komitmen untuk memperkuat akses pembiayaan dan mendukung pelaku usaha kecil tetap menjadi fondasi yang tidak berubah,” ujarnya.

Tak hanya lewat penyaluran pembiayaan, BRI juga memperkuat pemberdayaan UMKM melalui berbagai program.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan.

Kemudian, program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha.

Platform digital LinkUMKM telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM, sementara Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM.

BRI juga terus memperluas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sepanjang Januari sampai Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI telah menembus Rp1.539 triliun kepada sekitar 48,4 juta nasabah.

Menurut dari Sumbernya, pembiayaan serta pemberdayaan wajib berjalan beriringan agar pelaku UMKM tidak sekadar memperoleh akses permodalan, tetapi juga sanggup menaikkan kapasitas usaha dan memperluas pasar.

“Kami ingin pelaku UMKM masuk ke dalam ekosistem yang saling menguatkan. Ketika akses keuangan dibarengi pendampingan dan peningkatan kapasitas, pelaku usaha memiliki peluang lebih besar untuk berkembang, naik kelas, dan menciptakan dampak ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Tags

Terkini