JAKARTA – Pihak lembaga Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyampaikan pandangan bahwa tantangan sektor fiskal tanah air berpotensi mengalami eskalasi kenaikan manakala memasuki kurun waktu paruh semester II tahun 2026, terlepas dari performa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang enam bulan pertama yang tercatat memperlihatkan indikasi perbaikan.
Paparan tersebut disampaikan secara langsung oleh Peneliti CORE Indonesia, yakni Yusuf Rendy Manilet, dalam agenda presentasi laporan CORE Mid Year Economic Review 2026.
Yusuf memaparkan bahwa persentase rasio besaran defisit APBN terhadap produk domestik bruto (PDB) pada pengamatan semester I tahun 2026 mengalami penurunan ke level 0,76 persen jika dikomparasikan dengan kurun waktu yang serupa pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh angka 0,84 persen.
Menurut pemaparannya, capaian positif tersebut utamanya digerakkan oleh faktor perbaikan perolehan pendapatan kas negara, yang mana kontribusi terbesarnya ditopang oleh sektor penerimaan perpajakan.
“Kalau yang diukur itu rasio defisit anggaran terhadap PDB, itu mengalami penurunan di semester pertama tahun ini,” ujar Yusuf, dari Sumbernya.
Ia memberikan penjelasan lebih lanjut bahwa kenaikan perolehan sektor pajak tidak sekadar dipengaruhi oleh faktor pemulihan tata kelola sistem administrasi perpajakan selepas meredanya pelbagai kendala teknis pada aplikasi Coretax, melainkan turut pula disokong oleh tren eskalasi kenaikan harga komoditas andalan strategis seperti batu bara, komoditas minyak sawit mentah (CPO), serta komoditas nikel.
BACA JUGA: Menkeu Ungkap Pendapatan Negara Capai Rp1.459,4 Triliun, Defisit APBN Tetap Terjaga BACA JUGA: Banggar DPR Tegaskan APBN 2026 Kuat, Tak Perlu Naikkan Harga BBM Seperti Usulan JK Kendati demikian, Yusuf melayangkan peringatan serius bahwa tren pemulihan fiskal tersebut mempunyai potensi besar untuk sekadar berlangsung dalam durasi yang bersifat sementara saja.
Berdasarkan analisisnya, paruh fase semester II mendatang diprediksikan bakal berhadapan dengan rentetan tekanan eksternal yang sanggup memberikan pengaruh signifikan terhadap stabilitas postur APBN.
“Di balik capaian positif yang kami diskusikan, terutama di semester pertama ini, ada potensi perbaikan ini hanya bersifat sementara,” katanya, dari Sumbernya.
Ia menguraikan bahwa salah satu variabel faktor krusial yang wajib diwaspadai secara seksama adalah probabilitas terjadinya perlambatan tren harga komoditas global pada paruh babak kedua tahun ini.
Di samping tantangan tersebut, pihak pemerintah diestimasikan pula bakal menghadapi risiko pembengkakan anggaran alokasi belanja subsidi manakala pergerakan harga komoditas minyak mentah dunia konsisten bertahan di atas batasan asumsi dasar makro APBN.
Pihak CORE Indonesia turut pula menaruh sorotan tajam terhadap potensi eskalasi peningkatan nominal pembayaran pengembalian restitusi pajak kepada para wajib pajak.
Yusuf menilai secara objektif bahwa skenario kondisi tersebut berpotensi menggerus besaran porsi penerimaan negara pada paruh semester II, sehingga ruang gerak fleksibilitas fiskal nasional bakal mendapati keterbatasan yang kian sempit.