Harga Emas Menguat Walau The Fed Hawkish, Pelaku Pasar Masih Bimbang

Kamis, 30 Juli 2026 | 12:30:21 WIB
Harga Emas. ( SUMBER : NET )

JAKARTA – Pergerakan harga komoditas emas justru berbalik mencatatkan penguatan seusai otoritas bank sentral Amerika Serikat (AS) yakni The Federal Reserve atau The Fed mengambil keputusan untuk mempertahankan tingkat suku bunga acuan.

Langkah kebijakan tersebut secara langsung memberikan tekanan terhadap pelemahan nilai tukar dolar AS.

Berdasarkan data acuan Refinitiv, besaran harga emas pada sesi perdagangan hari Rabu (29/7/2026) ditutup pada posisi level US$ 4064,98 per troy ons.

Tingkat harganya terpantau menguat sebesar 0,94%.

Lonjakan nilai ini menunjukkan anomali yang berbanding terbalik dengan tren pelemahan sebesar 1,18% yang terjadi pada hari Senin sebelumnya.

Tren kenaikan harga emas pun terus melambung tinggi pada hari ini.

Di dalam sesi perdagangan hari Kamis (30/7/2026), harga emas melesat naik hingga 0,69% menuju kisaran posisi US$ 4092,99 per troy ons.

Pihak The Fed memang menjatuhkan keputusan untuk tetap mempertahankan suku bunga.

Kendati demikian, langkah tersebut diproyeksikan bakal memantik rentetan tanda tanya baru perihal cara sang Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam merealisasikan janji komitmennya guna meredam laju inflasi agar kembali turun ke target level 2%.

Mata uang dolar AS melemah pascalahirnya pengumuman arah kebijakan moneter tersebut, sehingga kondisi ini menjadikan komoditas emas terasa jauh lebih terjangkau bagi para pembeli yang mengoperasikan mata uang asing lainnya.

Secara bersamaan, tingkat imbal hasil obligasi pemerintah AS untuk tenor 10 tahun turut memangkas perolehan kenaikan terdahulu.

"Logam mulia memimpin reli moderat di berbagai aset meski Warsh secara keseluruhan terdengar cukup hawkish.

Ini terasa seperti reli akibat kelegaan setelah The Fed mempertahankan suku bunga," kata Tai Wong, analis logam independent, dikutip dari Refinitiv, dari Sumbernya.

Baca: Tok! The Fed Tahan Suku Bunga: Suara Terpecah, Peluang Naik Menguat Walau demikian, Tai Wong memberikan catatan peringatan bahwa situasi pasar keuangan dapat berbalik arah dalam tempo yang sangat singkat.

Sebab, kalangan pelaku pasar baik dari kalangan bandar maupun investor ritel masih diliputi rasa ragu-ragu dalam membaca sinyal petunjuk dari The Fed.

"Belum jelas berapa lama reli ini akan bertahan.

Pilihan kata Warsh cukup canggih dan kompleks sehingga pasar bisa saja mengubah penilaiannya setelah mencermati pernyataannya lebih dalam," imbuhnya, dari Sumbernya.

Warsh secara tegas menggarisbawahi bahwa bank sentral AS tetap memegang teguh komitmen dalam menggapai sasaran target inflasi jangka panjang di angka 2%, meskipun mengambil opsi menahan suku bunga di tengah situasi tekanan inflasi yang masih tergolong tinggi.

"Pasar obligasi sedang panik dan menyeret saham turun menjelang penutupan perdagangan.

Kekhawatiran terhadap inflasi membuat emas berkinerja lebih baik," tambah Wong, mengacu pada peran tradisional emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi, dari Sumbernya.

Baca: Kalahkan Cabai & Beras, Harga Daging Ayam Paling Melonjak Tahun Ini Para pelaku pasar keuangan saat ini menaksir probabilitas peluang kenaikan suku bunga pada periode bulan September berada di kisaran 64%, mengalami penurunan apabila dikomparasikan dengan posisi sekitar 81% sebelum rilis pernyataan resmi kebijakan The Fed.

Para investor kini mengarahkan fokus perhatiannya untuk menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan bakal dipublikasikan pada hari Kamis, sebagai indikator petunjuk lanjutan perihal arah peta kebijakan moneter.

Di sisi lain, institusi Bank of England (BoE) serta Bank of Japan (BoJ) turut diestimasikan bakal mempertahankan tingkat suku bunga pada sepanjang pekan ini, sembari mengeluarkan peringatan dini terkait eskalasi tekanan inflasi yang dipicu oleh kecamuk perang di kawasan Timur Tengah.

Terkini