JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 1.036 triliun pada semester I 2026 atau tumbuh 8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Capaian tersebut menjadi kali pertama kredit BCA menembus level Rp 1.000 triliun.
Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan pertumbuhan kredit ditopang pembiayaan produktif yang terus meningkat di tengah kondisi ekonomi yang masih bergejolak.
Menurut dia, penyaluran kredit tetap dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta mempertimbangkan kondisi likuiditas perseroan.
"Kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor," ujar Hendra dalam paparan kinerja semester I 2026, Selasa (28/7/2026), dari Sumbernya.
Penyaluran kredit produktif mencapai Rp 802 triliun atau meningkat 11 persen secara tahunan.
Dari jumlah tersebut, kredit korporasi tumbuh 13,6 persen menjadi Rp 513,4 triliun, sedangkan kredit komersial dan usaha kecil menengah (UKM) naik 6,6 persen menjadi Rp 288,5 triliun.
Rasio loan at risk (LAR) dan non-performing loan (NPL) masing-masing terjaga di level 4,9 persen dan 1,9 persen.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) meningkat 7,9 persen menjadi Rp 1.284 triliun.
Pertumbuhan tersebut ditopang giro dan tabungan (current account saving account/CASA) yang naik 10,2 persen menjadi Rp 1.082 triliun atau setara 84,3 persen dari total DPK.
Kondisi itu turut menjaga biaya dana (cost of fund) tetap terkendali.
BCA juga mencatatkan pertumbuhan pembiayaan berkelanjutan.
Kredit hijau meningkat 19 persen menjadi Rp 123 triliun, didorong pembiayaan sektor energi baru terbarukan yang melonjak 82 persen menjadi Rp 7,7 triliun.
Sementara itu, kredit kendaraan bermotor listrik tumbuh 25 persen menjadi Rp 4 triliun.
Hingga Juni 2026, laba bersih BCA dan entitas anak mencapai Rp 29,5 triliun.
Perseroan juga mempertahankan target pertumbuhan kredit pada kisaran 8-10 persen hingga akhir tahun seiring masih kuatnya permintaan pembiayaan dari sejumlah sektor usaha.
Di tengah pertumbuhan kredit tersebut, BCA mulai menyesuaikan suku bunga kredit setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin sejak Mei 2026.
Namun, penyesuaian dilakukan secara bertahap dan hanya kepada debitur tertentu sesuai dengan profil risiko serta kondisi usahanya.
Hendra mengatakan kenaikan BI Rate tidak serta-merta diteruskan ke seluruh bunga kredit.
Menurut dia, penyesuaian baru dilakukan ketika fasilitas kredit jatuh tempo dan diputuskan secara selektif.
"Kami tidak menaikkan di semua nasabah. Kami hanya menaikkan kepada nasabah tertentu yang kami nilai dari sisi bisnis masih mampu sehingga bunganya dinaikkan. Untuk nasabah yang suku bunganya sudah tinggi, kami tidak menaikkan," ujar Hendra, dari Sumbernya.
Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan hingga semester I 2026 transmisi kenaikan suku bunga acuan ke bunga kredit masih relatif terbatas.
Meski BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin, kenaikan bunga kredit BCA baru sekitar empat basis poin.
Kebijakan tersebut ditempuh untuk menjaga pertumbuhan pembiayaan di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
BCA tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit pada kisaran 8-10 persen hingga akhir 2026.
Perseroan menilai permintaan pembiayaan masih didukung sejumlah sektor, seperti infrastruktur, teknologi, perkebunan, pertanian, logistik, dan jasa keuangan.
Sektor-sektor tersebut juga diperkirakan menjadi penopang penyaluran kredit pada semester II tahun ini.
Sebelumnya, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026.
Suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan sebesar 4,75 persen dan Lending Facility sebesar 6,50 persen.
Keputusan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen.
Di saat yang sama, BI memilih memperkuat bauran kebijakan melalui peningkatan insentif bagi investor asing dibandingkan kembali menaikkan suku bunga.
Gubernur BI saat itu Perry Warjiyo mengatakan langkah tersebut dinilai lebih efektif menarik aliran masuk investasi portofolio, menjaga stabilitas rupiah, dan memperdalam Pasar Uang dan Valuta Asing (PUVA) tanpa mendorong kenaikan suku bunga domestik.
Kebijakan tersebut melanjutkan langkah pengetatan moneter BI sepanjang 2026.
Setelah mempertahankan BI Rate di level 4,75 persen selama Januari-April, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin pada Mei menjadi 5,25 persen.
Selanjutnya, BI kembali menaikkan BI Rate masing-masing sebesar 25 basis poin melalui RDG Mingguan pada 9 Juni menjadi 5,50 persen dan RDG Juni menjadi 5,75 persen.