Saham Melorot, BNI Siapkan Rp 627 Miliar untuk Pembelian Kembali

Rabu, 29 Juli 2026 | 12:10:17 WIB
BNI. ( sumber : net )

JAKARTA – Pergerakan saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senantiasa berada di lintasan penurunan walaupun BBNI telah merilis agenda pembelian kembali (buyback) saham bernilai maksimal Rp 627 miliar.

Pada penutupan transaksi Selasa (28/7/2026), saham BBNI tergerus 1,14% menuju angka Rp 3.480 per lembar.

Pada kurun sepekan terakhir, saham perusahaan perbankan BUMN itu telah terkoreksi 3,87%, sedangkan secara year to date (YTD) sudah merosot 20,37%.

BBNI mengagendakan mengeksekusi buyback saham berkapasitas maksimal Rp 627 miliar.

Berdasarkan laporan publikasi resmi di Bursa Efek Indonesia (BEI), langkah strategis perseroan tersebut bakal digulirkan terhitung 27 Juli sampai 26 Oktober 2026 memanfaatkan dana kas internal.

Jajaran manajemen BNI memaparkan, penanganan buyback dieksekusi merujuk POJK Nomor 13 Tahun 2023 dan Surat OJK Nomor S-10/D.04/2026 terkait regulasi aksi pembelian kembali saham oleh entitas terbuka pada iklim bursa yang bergejolak tajam.

BNI mengutarakan tindakan itu dimaksudkan demi mengimbangi gelombang penjualan di bursa berbarengan dengan mendongkrak estimasi bagi pemegang saham.

BNI menjamin asal pendanaan buyback sepenuhnya bersumber dari kas internal, bukan hasil penawaran saham umum maupun pinjaman.

Kapasitas buyback pun tidak melampaui 20% dari modal disetor perseroan.

Pihak manajemen menegaskan maneuver korporasi itu tak akan mengusik kondisi finansial maupun operasional perusahaan.

Melalui perkiraan seluruh kas buyback sebesar Rp 627 miliar dialokasikan, jumlah aset perusahaan diestimasi terkikis tipis menjadi Rp 1.364,74 triliun dibanding titik mula Rp 1.365,36 triliun.

Modal ekuitas pun diestimasikan menyusut ke posisi Rp 160,37 triliun dari angka Rp 160,99 triliun.

Walau begitu, perolehan laba bersih diproyeksikan bertahan di level Rp 9,05 triliun.

Malahan, laba per lembar saham (earnings per share/EPS) dihitung naik menjadi Rp 244 dibanding sebelumnya Rp 243.

Di saat bersamaan, return on equity (ROE) menanjak tipis menuju 14,52% dari 14,51%, sementara capital adequacy ratio (CAR) diprediksi terkikis tipis menuju 18,07% dari 18,14%.

Berdasar penuturan manajemen, fluktuasi itu tak signifikan atas keutuhan finansial perusahaan.

"BNI menilai langkah tersebut tidak akan memengaruhi kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang jatuh tempo maupun mengganggu likuiditas saham di Bursa Efek Indonesia," ujar manajemen BNI dalam keterbukaan informasi, dikutip Selasa (28/7), dari Sumbernya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta berpandangan, agenda buyback tersebut menjadi sinyal positif untuk saham BBNI lantaran memproyeksikan keyakinan manajemen atas fundamental perseroan beriringan dengan menegaskan bahwa nilai valuasi saham saat ini bertahan di bawah nilai wajar (undervalued).

Berdasarkan analisis Nafan, langkah buyback turut berpeluang menopang harga saham lewat penguatan permintaan di pasar serta penurunan jumlah saham yang beredar, sehingga sanggup menghadirkan dampak positif pada kenaikan laba per saham atau EPS.

"Buyback menjadi sinyal bahwa manajemen melihat valuasi saham saat ini masih menarik. Langkah ini juga berpotensi mendukung harga saham sekaligus meningkatkan EPS," ujarnya kepada dari Sumbernya.

Di samping itu, Nafan menganggap proyeksi jangka panjang BBNI senantiasa disokong oleh fundamental yang tangguh.

Pihaknya mencermati kondisi likuiditas serta struktur permodalan BBNI senantiasa sehat diiringi sokongan dana murah (CASA), rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR), beserta ketahanan modal yang kuat.

Dinamika itu membuka ruang untuk perseroan agar tetap menumbuhkan penyaluran kredit tanpa perlu tertekan beban biaya dana (cost of fund) yang terlampau tinggi.

Mengacu pada penjelasan Nafan, taktik BNI yang menggeser portofolio kredit ke entitas korporasi berperingkat unggul (blue chip) turut berpotensi memperkuat mutu aset di tengah gejolak ekonomi.

Di samping itu, cakupan jaringan kantor cabang luar negeri BNI yang terhitung paling ekstensif di antara perbankan nasional diyakini bakal menjadi pendorong pertumbuhan pendapatan komisi (fee-based income), utamanya dari aktivitas transaksi perdagangan internasional.

Nafan turut menganggap posisi BNI sebagai entitas aset utama di bawah naungan Danantara bakal membuka akses pembiayaan proyek strategis nasional, termasuk program hilirisasi industri, sehingga sanggup memperlebar basis nasabah korporasi sekaligus memperkokoh mutu aset.

Meninjau aspek valuasi, saham BBNI terhitung masih relatif terjangkau.

Price to Book Value (PBV) BBNI saat ini bertengger pada kisaran 0,8 kali, terhitung lebih rendah dibanding mayoritas bank papan atas lainnya.

Berbekal jajaran pendorong tersebut, Nafan mempertahankan rekomendasi accumulative buy untuk saham BBNI mengusung target harga Rp 4.020 per lembar saham.

Terkini