Proyeksi Suku Bunga Acuan Bank Indonesia Bulan Juli

Rabu, 22 Juli 2026 | 11:23:44 WIB
Ilustrasi suku bunga. ( SUMBER : NET )

JAKARTA - Bank Indonesia bakal mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur periode Juli 2026 pada hari ini.

Pada RDG BI yang digelar tanggal tersebut bank sentral akan menentukan arah kebijakan suku bunga acuan.

Asal tahu saja, sepanjang 2026 BI telah tiga kali menaikkan BI Rate dengan total kenaikan sebesar 100 basis poin dari level 4,75 persen menjadi 5,75 persen.

Lantas, bagaimana proyeksi BI rate kali ini?

Sejumlah ekonom pun berbeda pandangan mengenai hasil RDG kali ini.

Ada yang memperkirakan BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen, namun ada pula yang menilai bank sentral akan mempertahankan suku bunga di level 5,75 persen.

Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memproyeksikan BI Rate naik 25 basis poin menjadi 6 persen pada RDG Juli 2026.

"Kami melihat BI seharusnya melanjutkan siklus peningkatan bunga acuan dengan kenaikan 25 bps, tidak sebesar sebelumnya yang mencapai 50 bps," ujarnya kepada dari Sumbernya Selasa (21/7/2026).

Dia menjelaskan, kenaikan BI rate diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih menghadapi tekanan akibat tingginya permintaan valuta asing dari korporasi domestik, terutama untuk pembayaran utang luar negeri dan dividen.

Selain itu, inflasi diperkirakan bergerak mendekati batas atas kisaran sasaran BI.

Risiko kenaikan harga minyak dunia dan potensi gangguan pasokan pangan akibat fenomena El Nino juga dinilai dapat menambah tekanan inflasi.

"Kalo kami lihat dari sisi nilai tukar memang beberapa hari ini terjadi penguatan, namun kalo kami lihat dinamika permintaan korporasi thd dolar dan potensi ketidakpastian ke depan, rupiah masih berpotensi mengalami tekanan," ungkap Irman.

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, dia memperkirakan BI masih memiliki ruang untuk melanjutkan pengetatan kebijakan moneternya.

Jika langkah ini diambil, maka nilai tukar rupiah dapat berlanjut menguat.

Sebaliknya, kata Faiz, jika suku bunga ditahan ada risiko penguatan rupiah beberapa hari terakhir berpotensi berbalik arah.

Berbeda dengan proyeksi tersebut, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia justru memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate di level 5,75 persen pada RDG Juli 2026.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate pada level 5,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur mendatang," kata Peneliti Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam hasil risetnya yang dipublikasikan Selasa (21/7/2026).

LPEM FEB UI mencatat, inflasi umum Indonesia mencapai 3,34 persen secara tahunan pada Juni 2026, meningkat dari 3,08 persen secara tahunan pada Mei 2026.

Ini merupakan bulan kedua berturut-turut inflasi mengalami akselerasi sehingga semakin mendekati batas atas sasaran inflasi BI sebesar 1,5-3,5 persen.

Tekanan inflasi diperkirakan masih berlanjut pada Juli 2026 seiring berlanjutnya kenaikan biaya transportasi dan energi, serta meningkatnya pengeluaran masyarakat untuk kebutuhan pendidikan menjelang dimulainya tahun ajaran baru.

Meski demikian, LPEM menilai tekanan inflasi saat ini lebih banyak bersumber dari sisi penawaran, sehingga kenaikan BI Rate tambahan tidak akan efektif untuk meredam inflasi.

"Inflasi diperkirakan akan tetap berada dalam kisaran target Bank Indonesia, meskipun risiko kenaikan meningkat menyusul ketegangan geopolitik yang kembali memanas di Timur Tengah yang berpotensi menaikkan harga energi global dan berkontribusi terhadap inflasi impor," ucapnya.

Di sisi lain, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan secara agresif dalam beberapa waktu terakhir untuk memperkuat stabilitas rupiah dan meningkatkan daya tarik aset keuangan yang denominasi rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Namun, Riefky menilai pelemahan rupiah yang masih terjadi meski BI telah menaikkan suku bunga dan melakukan intervensi di pasar valas menunjukkan bahwa kebijakan moneter sejauh ini lebih banyak meredam volatilitas dibanding menghilangkan tekanan fundamental terhadap mata uang domestik.

Tingginya permintaan dollar AS dari investor global dan korporasi domestik, serta kekhawatiran terhadap komitmen fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah, telah mengimbangi manfaat dari selisih suku bunga yang lebih lebar.

Oleh karenanya, menurut Riefky, pengetatan moneter lebih lanjut hanya akan memberikan manfaat tambahan yang terbatas terhadap stabilisasi rupiah, sementara dampaknya terhadap perekonomian domestik justru lebih besar.

"Kami memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate pada Rapat Dewan Gubernur mendatang sambil mengevaluasi dampak pengetatan kebijakan terbaru terhadap nilai tukar, inflasi, dan aktivitas ekonomi domestik," tuturnya.

Terkini