Suku Bunga KPR Tinggi Tekan Pembangunan Rumah Tapak di AS

Senin, 20 Juli 2026 | 11:24:05 WIB
Papan tanda dijual di luar rumah di Los Angeles. ( sumber : net )

WASHINGTON - Pembangunan rumah tapak di Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Juni 2026.

Penurunan yang berlangsung selama tiga bulan berturut-turut tersebut menggambarkan kondisi sektor perumahan yang masih tertekan akibat tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kenaikan biaya konstruksi, serta melimpahnya stok rumah baru yang belum terjual.

Data Biro Sensus AS yang dipublikasikan Departemen Perdagangan pada Jumat mengindikasikan pembangunan rumah tapak merosot 0,2 persen secara bulanan menjadi 895.000 unit dalam perhitungan tahunan yang disesuaikan secara musiman.

Secara tahunan, angka tersebut berkurang 3,2 persen.

Penurunan terjadi di wilayah Timur Laut, Selatan, dan Midwest, sementara wilayah Barat justru membukukan peningkatan aktivitas pembangunan.

Prospek sektor perumahan turut tercermin dari izin pembangunan rumah tapak yang berkurang 2,4 persen menjadi 871.000 unit, yang merupakan level terendah sejak Agustus 2025.

Secara tahunan, izin pembangunan berkurang 0,2 persen.

Tekanan pada sektor perumahan diprediksi masih akan berlanjut sebab tingginya suku bunga KPR menyebabkan banyak calon pembeli menunda keputusan mereka untuk memiliki rumah.

Suku bunga KPR tenor tetap 30 tahun, yang paling banyak dipakai di AS, rata-rata mencapai 6,55 persen pada minggu ini atau menjadi yang tertinggi dalam 11 bulan, dari Sumbernya.

Di sisi lain, pengembang menaruh harapan bahwa undang-undang bipartisan mengenai keterjangkauan perumahan yang baru disahkan Kongres AS dapat membantu memperbaiki kondisi pasar.

Regulasi tersebut antara lain menyederhanakan kajian lingkungan dan mendorong reformasi aturan zonasi, meski dampaknya diprediksi baru akan dirasakan dalam beberapa waktu ke depan.

“Potensi peningkatan pembangunan perumahan dari penyederhanaan kajian lingkungan, pelonggaran aturan untuk rumah manufaktur, dan dorongan reformasi zonasi akan membutuhkan waktu sebelum dampaknya terasa,” kata Kepala Ekonom AS Pantheon Macroeconomics, Samuel Tombs.

“Investasi riil di sektor perumahan akan sedikit membebani pertumbuhan PDB dalam beberapa kuartal ke depan,” imbuhnya.

Terkini