BI Rate Berpotensi Naik 2 Kali Lagi Menurut Bank Danamon

Rabu, 15 Juli 2026 | 12:20:56 WIB
Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya. (FOTO:NET)

JAKARTA – Ketidakpastian ekonomi global kembali menjadi pusat perhatian utama bagi para pelaku di industri keuangan. Situasi tersebut memicu munculnya bahasan hangat di kalangan pelaku pasar mengenai peluang Bank Indonesia (BI) untuk kembali menaikan BI Rate di tengah tekanan nilai tukar rupiah dan dinamika geopolitik yang belum mereda.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) menilai bahwa peluang kenaikan suku bunga acuan tersebut sejatinya masih terbuka lebar. Sektor bank sentral diproyeksikan masih mempunyai ruang untuk menaikkan BI Rate hingga satu atau dua kali lagi jika tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengungkapkan bahwa pergerakan ekonomi global saat ini masih sangat dipengaruhi oleh aneka faktor eksternal. Kendati demikian, ia melihat ada potensi perbaikan apabila situasi geopolitik dunia mulai berangsur kondusif.

"Kami masih melihat kondisi ekonomi terutama dipengaruhi faktor eksternal. Namun, apabila perkembangan geopolitik membaik, tentu itu dapat menjadi katalis positif bagi perekonomian," ujar Ivan Jaya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Menurut penuturan Ivan, dinamika tersebut membuka celah bahwa perubahan arah kebijakan moneter dari Bank Indonesia masih sangat mungkin terjadi.

"Tidak tertutup kemungkinan BI mempunyai langkah untuk menaikkan suku bunga lagi, mungkin satu kali atau dua kali lagi. Apa pun kebijakan yang diambil pemerintah, kami akan mengikuti dan melakukan penyesuaian," katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pernyataan itu sekaligus menjadi indikator bahwa kalangan industri perbankan nasional mulai merumuskan bermacam taktik untuk menghadapi potensi era suku bunga tinggi yang bertahan dalam waktu lebih lama.

Ivan Jaya turut menegaskan bahwa Danamon telah merancang langkah antisipasi jika Bank Indonesia nantinya benar-benar mengubah arah kebijakan moneter mereka.

"Kalau bicara tentang adanya penyesuaian, hal tersebut juga sudah kami sesuaikan. Tentunya baik dari sisi kredit pembiayaan maupun dari sisi tabungan atau deposito, kami juga menyesuaikan strateginya ke depan," ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa langkah penyesuaian kelak tidak sekadar menyasar produk pinjaman nasabah, melainkan juga pada sektor penghimpunan dana publik.

Ivan juga memastikan bahwa pihak Danamon tidak akan mengerek seluruh tingkat suku bunga produknya secara seragam.

"Kami tidak serta-merta menaikkan seluruh suku bunga. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nasabah dan kondisi pasar agar tetap menjaga daya saing," tegasnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.

Langkah ini menunjukkan strategi yang umum di dunia perbankan demi menjaga agar lonjakan biaya dana tidak menekan daya saing produk kredit yang ditawarkan kepada masyarakat.

Menurut pandangan Ivan, peningkatan pada aktivitas transaksi nasabah menjadi salah satu solusi ampuh guna menjaga biaya dana tetap berada di level kompetitif.

Guna menghadapi potensi suku bunga tinggi, Danamon memperkokoh fondasi bisnisnya lewat peningkatan volume transaksi nasabah, pemenuhan dana murah, serta penguatan lini layanan transaksi valuta asing (valas).

Taktik tersebut terbukti memberikan dampak positif pada performa finansial perusahaan hingga periode Maret 2026. Penyaluran kredit Danamon tercatat mampu tumbuh sekitar 9% secara tahunan hingga menyentuh angka Rp216 triliun, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) melesat sekitar 16% di angka Rp176 triliun.

Selain itu, sektor bisnis transaksi valuta asing turut memperlihatkan tren perkembangan yang sangat positif. Tabungan valas perusahaan melonjak sekitar 52% hingga berada pada kisaran nominal Rp8,5 triliun sampai Rp9 triliun, dibarengi pendapatan berbasis komisi dari transaksi valas yang tumbuh sekitar 35%.

Terkini