JAKARTA – Fluktuasi ekonomi global yang tidak menentu kini kembali memicu kewaspadaan tinggi di kalangan pelaku industri keuangan. Adanya tekanan pada mata uang rupiah serta dinamika geopolitik global melahirkan spekulasi di kalangan pasar perihal potensi Bank Indonesia (BI) mendongkrak BI Rate.
Merespons hal itu, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) memproyeksikan bahwa ruang bagi bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu hingga dua kali lagi masih terbuka cukup lebar. Prediksi ini menjadi alarm penting bagi ekosistem perbankan, pelaku usaha, hingga masyarakat luas yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan dari bank.
Ivan Jaya selaku Consumer Funding & Wealth Business Head Bank Danamon mengemukakan bahwa potret ekonomi dunia hingga hari ini masih didominasi oleh pengaruh faktor eksternal. Walau begitu, peluang pemulihan ekonomi masih terbuka apabila tensi geopolitik global mulai mereda.
"Kami masih melihat kondisi ekonomi terutama dipengaruhi faktor eksternal. Namun, apabila perkembangan geopolitik membaik, tentu itu dapat menjadi katalis positif bagi perekonomian," ujar Ivan Jaya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Bagi Ivan, situasi pasar yang dinamis seperti saat ini membuat kebijakan moneter Bank Indonesia tetap memiliki sifat yang fleksibel.
"Tidak tertutup kemungkinan BI mempunyai langkah untuk menaikkan suku bunga lagi, mungkin satu kali atau dua kali lagi. Apa pun kebijakan yang diambil pemerintah, kami akan mengikuti dan melakukan penyesuaian," katanya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Sinyal tersebut mengonfirmasi bahwa sektor perbankan nasional kini tengah bersiap menghadapi skenario di mana era suku bunga tinggi akan berlangsung dalam jangka waktu panjang.
Ivan Jaya menerangkan bahwa manajemen Danamon telah menyusun skema mitigasi sekiranya Bank Indonesia merubah ketetapan kebijakan moneter mereka di masa depan.
"Kalau bicara tentang adanya penyesuaian, hal tersebut juga sudah kami sesuaikan. Tentunya baik dari sisi kredit pembiayaan maupun dari sisi tabungan atau deposito, kami juga menyesuaikan strateginya ke depan," ujarnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Melalui penjelasan tersebut, terlihat jelas bahwa bank harus cermat dalam menyeimbangkan suku bunga simpanan dan bunga pinjaman agar pertumbuhan bisnis tetap terjaga secara sehat.
Ivan menggarisbawahi bahwa Danamon bakal menghindari kebijakan menaikkan suku bunga secara drastis dan menyeluruh pada seluruh produk.
"Kami tidak serta-merta menaikkan seluruh suku bunga. Penyesuaian dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan nasabah dan kondisi pasar agar tetap menjaga daya saing," ungkapnya sebagaimana dilansir dari sumber berita.
Kebijakan penyesuaian suku bunga yang selektif ini diposisikan demi memelihara kepuasan nasabah serta daya tarik produk perbankan di pasar global.
Ivan berpendapat bahwa optimalisasi pada sektor transaksi harian nasabah merupakan kunci utama untuk memelihara agar biaya dana perbankan tetap efisien.
Sebagai bagian dari strategi adaptifnya, Danamon memilih fokus memacu transaksi nasabah, menghimpun dana murah, serta mempertajam penetrasi pada produk transaksi valuta asing (valas).
Strategi bisnis tersebut terbukti sukses menopang kinerja keuangan korporasi hingga bulan Maret 2026. Volume kredit Danamon sukses bertumbuh 9% secara tahunan menjadi Rp216 triliun, diiringi oleh lonjakan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 16% hingga menembus angka Rp176 triliun.
Indikator positif lain juga tampak dari lini bisnis valas, di mana saldo tabungan valas meroket hingga 52% ke kisaran Rp8,5 triliun sampai Rp9 triliun. Bersamaan dengan itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) dari transaksi valuta asing ikut melonjak di angka 35%.