JAKARTA - Laporan riset harian dari BNI Sekuritas mengonfirmasi bahwa bursa saham Wall Street berakhir di zona merah pada sesi perdagangan hari Senin (13/7).
Kondisi pasar terpengaruh pasca Presiden AS Donald Trump memaparkan kembali langkah pemblokiran atas jalur kapal Iran yang melewati Selat Hormuz, yang memicu lonjakan harga komoditas minyak mentah global sekaligus memperdalam kekhawatiran terhadap gejolak inflasi.
Indeks S&P 500 mengalami penurunan sebesar 0,79%, indeks Nasdaq Composite tertekan hingga 1,55%, serta indeks Dow Jones Industrial Average terkikis sebanyak 0,26%.
Trump melontarkan pengumuman via media sosial Truth Social bahwa AS kembali menerapkan aksi blokade bagi armada kapal Iran maupun entitas lain yang kedapatan menjalin hubungan dagang dengan negara tersebut.
Ia pun menggarisbawahi kalau AS bakal memegang peran sebagai 'penjaga Selat Hormuz' dan bakal membebankan pungutan tarif sebesar 20% bagi seluruh muatan kargo yang melewati lintasan maritim strategis itu sebagai bentuk substitusi ongkos pengamanan.
Pemberitahuan tersebut seketika memicu koreksi nilai pada harga minyak dunia.
Komoditas WTI melesat tinggi hingga 9,4% menuju angka US$ 78/bbl, sementara varian Brent meroket sebanyak 9,6% ke posisi US$ 83/bbl.
Pada sektor industri, pergerakan saham SK Hynix yang diperdagangkan di pasar AS jatuh sedalam 9% setelah sebelumnya sempat menguat 13% pada momen peluncuran perdananya.
Emiten Micron Technology ikut melemah sebanyak 4%, disusul Sandisk yang merosot 12%, serta Seagate Technology yang menyusut hingga 5%.
Sedangkan emiten Advanced Micro Devices (AMD) mengalami koreksi sebesar 4% diikuti pula oleh Intel yang terpangkas hingga 6%.
Pada sisi lain, bursa saham di wilayah regional Asia bergerak secara variatif pada hari Senin (13/7), menyusul tensi konflik di area Teluk yang kian memanas.
Pihak Iran memberikan pernyataan sepihak bahwa mereka telah menutup akses Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama logistik bagi distribusi komoditas minyak bumi, hingga berimbas pada lonjakan harga minyak bumi dan kembali memicu kekhawatiran perihal inflasi dunia.
Bukan hanya itu, para pemodal sekarang memproyeksikan adanya peningkatan peluang bagi The Fed untuk mengerek tingkat suku bunga acuan mereka, menjelang penyampaian pidato perdana dari Ketua Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres pada hari Selasa waktu setempat.
Pelaku pasar juga tengah menantikan rilis publikasi data inflasi AS untuk masa Juni yang dijadwalkan keluar pada hari Selasa, di mana angka inflasi diprediksi mengalami sedikit perlambatan dibanding posisi sebelumnya di 4,2% akibat terpengaruh penurunan harga BBM.
Di negara Jepang, pergerakan indeks Nikkei 225 terpantau melemah sebesar 1,9% serta indeks Topix ikut terkoreksi sebanyak 0,7%.
Beralih ke Korea Selatan, laju indeks Kospi jatuh sedalam 9% sementara indeks Kosdaq mengalami pelemahan hingga 4,5%.
Sebaliknya, indeks Hang Seng Hong Kong mampu terapresiasi sebesar 0,16%, indeks ASX 200 Australia bertambah tipis 0,03%, serta indeks Taiex Taiwan sukses menguat sebanyak 0,06%.
Di pasar domestik, pergerakan IHSG pada perdagangan kemarin (13/7) disudahi dengan penguatan sebesar 1,92%, meski laju kenaikan ini masih dibarengi dengan aksi jual bersih oleh investor asing (net sell) yang mencapai nilai Rp413 Miliar.
Beberapa saham yang mencatatkan volume penjualan tertinggi oleh pihak asing meliputi BBCA, MAPI, ASII, TINS, dan DEWA.
“IHSG berpotensi naik kembali jika menembus 6050 dengan target di 6150 shortterm. Katalisnya adalah S&P tetapkan stable outlook untuk Indonesia. Diperkirakan Support IHSG: 5970-6000 dan Resist IHSG: 6100-6150,” sebut Fanny Suherman, CFP selaku Head of Retail Research BNI Sekuritas dalam riset Selasa (14/7).
Selanjutnya, diuraikan pula deretan saham yang bisa dijadikan sebagai instrumen pilihan Trading Idea pada hari ini, antara lain BRPT, TPIA, BUMI, MINA, AMMN, beserta CDIA.
Di bawah ini merupakan panduan trading rekomendasi tersebut:
BRPT Spec Buy melalui zona pembelian pada rentang 1735-1750, batas cutloss di bawah level 1720.
Target harga terdekat berada di area 1780-1800.
TPIA Spec Buy melalui zona pembelian pada rentang 1870-1890, batas cutloss di bawah level 1870.
Target harga terdekat berada di area 1920-1975.
BUMI Spec Buy melalui zona pembelian pada rentang 145-147, batas cutloss di bawah level 140.
Target harga terdekat berada di area 150-152.
MINA Spec Buy melalui zona pembelian pada rentang 272-276, batas cutloss di bawah level 270.
Target harga terdekat berada di area 282-292.
AMMN Spec Buy melalui zona pembelian pada rentang 3700-3780, batas cutloss di bawah level 3680.
Target harga terdekat berada di area 3850-3900.
CDIA Spec Buy melalui zona pembelian pada rentang 625-635, batas cutloss di bawah level 620.
Target harga terdekat berada di area 645-660.