BI Rate Naik 5,75 Persen, Investor Wajib Selektif dan Terukur

Senin, 29 Juni 2026 | 11:53:19 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia (sumber foto: NET)

JAKARTA Bank Indonesia (BI) mencatat kebijakan moneter agresif sepanjang Mei–Juni 2026 dengan menaikkan suku bunga acuan tiga kali berturut-turut, total 100 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Langkah ini menjadi salah satu fase pengetatan paling agresif dalam dua dekade terakhir, bertujuan menjaga stabilitas rupiah yang sempat melemah ke Rp18.175 per dolar AS pada 8 Juni 2026 sebelum menguat ke Rp17.900 per 25 Juni 2026.

Chief Investment Officer PT Inovasi Finansial Teknologi (Makmur), Stefanus Dennis Winarto, menilai penerbitan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dalam volume besar memunculkan fenomena crowding out di pasar obligasi jangka pendek. Investor cenderung beralih ke SRBI yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, sehingga yield obligasi pemerintah tenor pendek ikut naik.

Dalam kondisi suku bunga tinggi, Stefanus menyarankan strategi investasi yang selektif. Yield SBN tenor 10 tahun berada di kisaran 7,2 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan awal tahun 6,09 persen, sehingga membuka peluang bagi investor instrumen pendapatan tetap. Ia menekankan pentingnya pengelolaan aktif melalui reksa dana pendapatan tetap (RDPT) agar manajer investasi bisa merespons perubahan yield lebih fleksibel.

Bagi investor yang mengutamakan likuiditas, reksa dana pasar uang (RDPU) tetap relevan sebagai instrumen penempatan dana sambil mencermati kondisi makro. “Dalam kondisi seperti ini, disiplin dalam pengelolaan risiko dan konsistensi strategi investasi tetap menjadi kunci,” ujarnya, Minggu, 28 Juni 2026.

Respons pasar terhadap kenaikan suku bunga terlihat cepat. Kepemilikan asing pada SRBI naik dari Rp114,05 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp238,09 triliun per 15 Juni 2026. Imbal hasil SRBI pada lelang 24 Juni tercatat 7,36 persen untuk tenor 6 bulan, 7,54 persen untuk tenor 9 bulan, dan 7,70 persen untuk tenor 12 bulan.

Di pasar obligasi pemerintah, outflow asing menyusut dari Rp11,36 triliun per 19 Mei menjadi Rp4,35 triliun per 22 Juni 2026. Yield SBN tenor 10 tahun naik ke 7,24 persen, sementara yield SUN tenor 1 tahun 7,17 persen justru melampaui tenor 2 dan 3 tahun sebelum kembali naik di tenor 10 tahun. Kondisi ini mencerminkan tekanan kebijakan moneter pada instrumen jangka pendek.

Terkini