JAKARTA - Riset harian mencatat pada perdagangan Jumat, 19 Juni, indeks saham Wall Street rebound setelah sebelumnya tertekan oleh sinyal The Fed yang membuka peluang kenaikan suku bunga tahun ini. Penguatan dipimpin oleh saham teknologi dan semikonduktor.
Nasdaq Composite naik 1,91%, S&P 500 menguat 1,08% dan Dow Jones bertambah 0,14%. Saham Intel melonjak 10,6% setelah diumumkan bermitra dengan Apple dalam pengembangan chip di AS. Sentimen positif ini turut mengangkat saham semikonduktor lain seperti Nvidia yang naik 3% dan Micron Technology yang melesat hampir 9%.
Pasar saham Asia mayoritas turun pada Jumat, 19 Juni, dipengaruhi oleh meredanya ketegangan di Timur Tengah setelah jalur pelayaran Selat Hormuz kembali dibuka. USD menguat secara signifikan akibat sikap hawkish The Fed. Nikkei 225 naik 0,28% sedangkan Topix turun 0,57%.
Di Korea Selatan, KOSPI melemah 0,13% dan KOSDAQ merosot 3,43%. ASX 200 Australia berkurang 0,93%. Sementara itu, beberapa bursa tutup karena libur nasional di China, Hong Kong, dan Taiwan.
Pada perdagangan sebelumnya, IHSG ditutup menguat 0,078% ke level 6.177. Asing mencatatkan net sell Rp3,14 triliun di regular market.
“Melihat hal tersebut, kami memprediksikan IHSG hari ini sideways cenderung melemah. Diperkirakan Support: 6117 dan 6080 dan Resistance: 6209 dan 6245,” sebut seorang analis dalam riset Senin, 22 Juni 2026.
Beberapa saham direkomendasikan sebagai trading idea hari ini:
TPIA Spec Buy area beli Rp2000-2060, cutloss di bawah Rp2000, target Rp2090-2130
ADRO Spec Buy area beli Rp2180-2200, cutloss di bawah Rp2170, target Rp2280-2320
DEWA Spec Buy area beli Rp360-366, cutloss di bawah Rp360, target Rp374-380
ISAT Spec Buy area beli Rp1700-1720, cutloss di bawah Rp1700, target Rp1750-1780
NCKL Spec Buy area beli Rp840-860, cutloss di bawah Rp830, target Rp890-920
AMRT Spec Buy area beli Rp1330-1350, cutloss di bawah Rp1330, target Rp1380-1410
Pasar modal Indonesia mulai menunjukkan sinyal pemulihan setelah gelombang aksi jual masif dalam 18 tahun terakhir. Indeks berhasil bangkit 16,4% dalam sepekan terakhir, setelah sempat turun hingga 38,2% sepanjang tahun berjalan. Kejatuhan ini melampaui kedalaman koreksi saat pandemi Covid-19 yang tercatat sebesar 37%.
Meski demikian, momentum kebangkitan jangka pendek ini belum menjadi solusi penuh karena pengelolaan anggaran nasional menghadapi tantangan ketat. “Ini sebuah napas buatan, tetapi bukan obat mujarab. Kami menilai target defisit fiskal saat ini yang sebesar 2,7% sama sekali tidak menyisakan ruang bagi adanya kesalahan,” tulis riset tersebut.