JAKARTA – Permata Institute for Economic Research (PIER) memberikan proyeksi bahwa Bank Indonesia memiliki kesempatan untuk meningkatkan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun 2026 ini apabila tekanan pada mata uang rupiah dan inflasi terus merangkak naik.
Faisal Rachman selaku Head of Macroeconomics and Market Research PermataBank’s PIER menyampaikan bahwa celah peningkatan suku bunga kian terbuka lebar seiring dengan penurunan performa beberapa indikator ekonomi, mulai dari inflasi, defisit transaksi berjalan, hingga tekanan dari pasar global.
“Kami melihat memang peluang BI untuk menaikkan suku bunga ke 5% itu terbuka saat ini,” ujar Faisal dalam Media Briefing PIER Economic Review, Selasa (11/5/2026).
PIER memberikan estimasi bahwa BI Rate memiliki potensi untuk naik sebesar 25 basis point (bps) hingga menyentuh level 5% pada periode Mei atau Juni 2026 mendatang.
Faisal menjabarkan ada tiga poin utama yang menjadi dasar pertimbangan arah kebijakan moneter. Pertama, kondisi inflasi dalam negeri yang meski sekarang stabil, namun memiliki risiko melonjak akibat tekanan dari sisi pasokan maupun permintaan.
Kedua, situasi eksternal nasional yang diprediksi akan mengalami penurunan kualitas. Faisal mengamati bahwa defisit current account berisiko semakin lebar dikarenakan laju impor yang diprediksi akan bergerak lebih cepat daripada ekspor.
“Current account kemungkinan defisit akan melebar karena kami lihat impor itu akan cenderung outpacing,” katanya.
Ketiga adalah faktor ekonomi global, khususnya kebijakan suku bunga The Fed di Amerika Serikat. Faisal menilai bahwa ruang penurunan bunga The Fed tahun ini kian sempit dan diprediksi baru akan terbuka pada akhir tahun mendatang.
Gabungan dari ketiga unsur tersebut membuat risiko bagi stabilitas ekonomi nasional dinilai kian besar. PIER juga menyoroti kondisi nilai tukar rupiah yang telah mengalami pelemahan lebih dari 4% terhadap dolar AS.
Berdasarkan data historis, pelemahan tersebut kerap menjadi kode bagi Bank Indonesia untuk mulai mengkaji kenaikan suku bunga. Faisal menyebut jika rupiah melemah di atas 3%, potensi kenaikan bunga biasanya mulai muncul.
“Biasanya kalau rupiah melemah 3% ke atas, itu sudah ada potensi kenaikan suku bunga,” ujar Faisal.
Selain hal itu, adanya peningkatan imbal hasil pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) turut memberikan indikasi bahwa tekanan pada pasar keuangan dalam negeri sedang mengalami peningkatan.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, berpendapat bahwa tekanan inflasi ke depan juga bisa meningkat jika harga minyak dunia menetap di atas US$ 100 per barel dan nilai rupiah terus tertekan hingga Rp 17.500 per dolar AS.
Kondisi ini diprediksi dapat memberikan beban pada kemampuan fiskal pemerintah, terutama dalam menjaga agar harga energi subsidi tidak mengalami kenaikan di pasar domestik.
“Meskipun pemerintah terus berkata kemungkinan harga BBM atau energi bersubsidi tidak akan dinaikkan tahun ini, tetapi kalau rupiah terus melemah dan harga oil terus bertahan di atas US$ 100, itu ke depannya pasti sudah melebihi kapasitas fiskal yang ada saat ini,” kata Josua.
Josua berpandangan bahwa pada akhirnya pemerintah perlu memanfaatkan ruang fiskal sebagai pelindung demi stabilitas ekonomi. Kombinasi inflasi dan pelemahan rupiah ini diyakini akan mendorong BI untuk menyesuaikan suku bunga acuannya.
Langkah ini juga sejalan dengan tren beberapa bank sentral dunia yang mulai menimbang kembali pengetatan moneter akibat risiko krisis energi global.
“Kalau krisis energi ini terus berkepanjangan tentunya pasti akan membebani inflasi Indonesia juga outlook-nya. Di satu sisi rupiah juga akan terus melemah,” ujarnya.