Rupiah Sentuh Rekor Terendah 17.424 per Dolar AS pada 12 Mei 2026

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:09:19 WIB
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Rupiah baru saja menyentuh rekor nilai terendah sepanjang sejarah dengan melewati angka Rp17.400 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Kondisi ini memicu pertanyaan apakah pelemahan tersebut merupakan fluktuasi normal atau tanda bahaya bagi ekonomi nasional dalam jangka panjang.

Data pasar spot pada Selasa menunjukkan rupiah berada di level Rp17.424 per dolar AS menurut pantauan terkini para pelaku pasar modal.

Angka yang serupa juga terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia yang mencatatkan posisi Rp17.425 per dolar AS.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman, menilai situasi ini bukan sekadar masalah nilai tukar mata uang semata.

Hal ini menandakan pasar sedang menguji kepercayaan terhadap kebijakan fiskal dan moneter yang saat ini diterapkan di tanah air.

"Jadi, pelemahan rupiah saat ini harus dibaca sebagai alarm bahwa pasar sedang menguji kredibilitas bauran kebijakan fiskal-moneter Indonesia," ujarnya.

M. Rizal Taufikurahman menjelaskan bahwa tekanan pada rupiah muncul saat indeks dolar (DXY) sebenarnya sedang mengalami penurunan secara global.

Ini mengindikasikan bahwa penyebab utama pelemahan mata uang Garuda berasal dari faktor internal negeri sendiri yang perlu segera diantisipasi.

Pasar saat ini memberikan premi risiko lebih besar untuk Indonesia akibat pelebaran defisit fiskal dan naiknya kebutuhan dana APBN tahun 2026.

Selain itu, tingginya harga minyak serta beban subsidi energi turut menggerus kepercayaan para investor terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri.

Kondisi diperparah dengan adanya aksi jual bersih oleh pihak asing di bursa saham yang terjadi secara masif dalam beberapa waktu terakhir.

Akibatnya, masuknya dana asing ke pasar obligasi pada bulan April tidak mampu memberikan tenaga tambahan bagi penguatan nilai tukar rupiah.

M. Rizal Taufikurahman menilai sebagian dana yang masuk hanya bersifat jangka pendek dan rentan keluar kembali sewaktu-waktu.

Di sisi lain, permintaan valuta asing untuk impor energi, cicilan utang, serta pengiriman dividen ke luar negeri tetap tinggi secara struktural.

Dalam proyeksi dasar, rupiah diperkirakan bertahan pada rentang Rp17.000 hingga Rp17.500 per dolar AS sampai akhir tahun mendatang.

Namun, angka ini bisa merosot lebih dalam jika beban fiskal terus membengkak dan aliran modal asing terus keluar dari pasar keuangan.

"Namun, jika tekanan fiskal membesar, yield SBN naik, dan aliran modal asing keluar lebih deras, rupiah bisa menembus Rp17.500," tegasnya.

Pada kemungkinan terburuk, M. Rizal Taufikurahman memperingatkan rupiah bisa menyentuh level Rp18.000 per dolar AS jika kondisi tidak membaik.

Skenario ini terjadi jika kenaikan harga minyak, defisit APBN, dan hengkangnya investor asing terjadi secara simultan di pasar modal.

"Ini bisa terjadi jika tiga tekanan terjadi bersamaan: harga minyak tetap tinggi, defisit APBN melebar, dan investor asing keluar dari saham maupun SBN," katanya.

Walau begitu, peluang untuk pulih ke level Rp16.500 per dolar AS tetap ada meski tidak bisa hanya bertumpu pada intervensi Bank Indonesia saja.

Dibutuhkan pengendalian defisit fiskal yang ketat serta penguatan cadangan devisa yang stabil untuk mengembalikan kepercayaan para pelaku pasar.

M. Rizal Taufikurahman juga menekankan pentingnya hasil evaluasi peringkat utang oleh S&P pada bulan Mei ini terhadap fundamental ekonomi nasional.

Jika pasar melihat risiko fiskal terus naik, maka pelarian modal akan didorong oleh keraguan terhadap fundamental ekonomi di dalam negeri.

Terkini