JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mempunyai peluang untuk melakukan 'rebound' atau berbalik arah menguat pada hari ini.
Kondisi ini muncul usai indeks terjatuh cukup dalam pada penutupan transaksi akhir pekan kemarin hingga menyentuh angka 2,86 persen menuju level 6.969.
Pelemahan tersebut disertai dengan tindakan jual bersih (net sell) saham oleh penanam modal asing dengan nilai akumulasi mencapai Rp485 miliar.
Deretan saham yang paling banyak dilepas oleh investor luar negeri di antaranya adalah BMRI, BUMI, BREN, ADRO, serta DSSA.
"IHSG berpotensi short term teknikal rebound hari ini ke 7.070-7.130. Tetapi gunakan untuk 'sell on high' karena IHSG masih rentan kembali koreksi," kata Fanny Suherman.
Terminologi "sell on high" merupakan taktik menjual kepemilikan saham saat harga di titik tertinggi. Strategi ini diterapkan guna mengunci laba sebelum harga berisiko kembali melandai.
Fanny memproyeksikan bahwa laju IHSG pada hari ini akan bergerak di rentang 6.650-6.850 untuk level support. Di sisi lain, batas resistansi diperkirakan berada pada kisaran 7.070-7.130.
Situasi bursa saham mancanegara terpantau bergerak beragam pada akhir pekan lalu. Pasar saham di Amerika Serikat menampakkan tren kenaikan yang cukup signifikan.
Hal ini berbanding terbalik dengan bursa saham di kawasan Asia yang justru berakhir di zona merah. Kondisi ini dipengaruhi oleh dinamika pasar regional yang cukup fluktuatif.
"Indeks saham S&P 500 & Nasdaq mencapai rekor tertinggi didorong oleh menguatnya saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI)," ucap Fanny memberikan penjelasan.
Indeks S&P 500 diketahui menanjak 0,84 persen, Nasdaq melesat hingga 1,71 persen, dan Dow Jones Industrial Average merangkak naik tipis 0,02 persen.
Selain itu, rilis data ketenagakerjaan di AS memperlihatkan hasil yang lebih kokoh dari ekspektasi awal. Hal ini mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja di sana saat ini.
Tingkat pengangguran pada periode April juga tetap bertahan di level stabil yakni 4,3 persen. Data ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku pasar modal global.
"Kondisi itu memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga untuk beberapa waktu. Yakni antara 3,50-3,75 persen hingga akhir tahun," ujar Fanny.
Timbulnya rasa optimisme terkait laba korporasi membantu para pemodal untuk sedikit mengesampingkan gesekan militer. Konflik tersebut melibatkan AS dan Iran di wilayah Teluk.
Meski demikian di regional Asia, bursa saham justru melemah pada akhir pekan lalu. Penurunan ini menyusul meningkatnya ketegangan geopolitik yang terjadi di wilayah Timur Tengah.
Eskalasi tersebut kembali memicu kekhawatiran yang menguji ketangguhan rally pasar saham belakangan ini. Hal ini terlihat dari pergerakan indeks di beberapa negara tetangga.
Di Jepang, indeks Nikkei 225 mencatatkan penurunan sebesar 0,19 persen. Sementara di Korea Selatan, indeks Kospi justru terpantau mengalami kenaikan tipis sebesar 0,11 persen.
Adapun indeks harga saham di Hang Seng Hong Kong terpantau merosot 0,87 persen dan Taiex Taiwan melemah 0,79 persen. CSI 300 Tiongkok turut terkoreksi sebesar 0,58 persen.