IHSG 5 Mei 2026 Terancam Pelemahan, Analis Soroti Net Sell Rp791 Miliar

Selasa, 05 Mei 2026 | 16:24:43 WIB
IHSG

JAKARTA – Laju IHSG berpotensi terkoreksi 5 Mei 2026 akibat tekanan sentimen negatif pasar global serta masifnya aksi jual bersih oleh investor asing senilai Rp791 miliar. Pelemahan ini diprediksi akan mewarnai dinamika perdagangan pada hari Selasa ini di Bursa Efek Indonesia.

Kondisi pasar saat ini dibayangi oleh sentimen negatif yang datang dari luar negeri secara bertubi-tubi. Padahal, pada penutupan perdagangan sebelumnya, indeks sempat menunjukkan penguatan tipis sebesar 0,22 persen.

Berdasarkan data yang dilansir dari Suara, pelaku pasar mancanegara mencatatkan nilai jual bersih atau net sell yang cukup besar. Total aksi lepas aset tersebut menyentuh angka sekitar Rp791 miliar pada sesi perdagangan terakhir.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar atau blue chip menjadi sasaran utama dari aksi pelepasan aset oleh pemodal asing tersebut. Beberapa di antaranya meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta PT Astra International Tbk (ASII).

Secara analisis teknikal, posisi indeks saat ini dinilai masih sangat rentan terhadap potensi penurunan lanjutan. Para pelaku pasar sangat diharapkan untuk tetap waspada dan mencermati setiap batasan pergerakan harga hari ini.

Level dukungan atau support utama bagi indeks diproyeksikan berada pada rentang angka 6.850 hingga 6.900. Sementara itu, titik hambatan atau resisten diperkirakan akan tertahan pada level 7.000 sampai dengan 7.090.

Tekanan yang terjadi pada bursa domestik ini berjalan selaras dengan kondisi memerahnya lantai bursa di Amerika Serikat. Wall Street tercatat ditutup melemah pada Senin, 4 Mei 2026 malam, akibat memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah.

Indeks Dow Jones Industrial Average mengalami penurunan yang cukup dalam sebesar 1,13 persen pada penutupan tersebut. Pelemahan ini juga diikuti oleh S&P 500 yang terkoreksi 0,41 persen serta Nasdaq Composite yang berkurang 0,19 persen.

Kekhawatiran para investor global meningkat setelah munculnya laporan Uni Emirat Arab (UEA) yang mencegat serangan rudal dari Iran. Di sisi lain, militer Iran mengklaim telah berhasil menghalau armada yang mereka sebut sebagai kapal perang "Amerika-Zionis" di Pulau Jask.

Meskipun Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) membantah klaim adanya kapal yang terkena serangan, stabilitas kawasan yang terganggu tetap menekan selera risiko. Situasi yang tidak menentu ini juga memicu terjadinya fluktuasi harga pada komoditas minyak dunia secara signifikan.

Kondisi berbeda justru terlihat pada mayoritas bursa di wilayah Asia yang mencatatkan performa cukup positif. Indeks Kospi di Korea Selatan melonjak hingga 5,12 persen, disusul Taiex Taiwan yang melesat 4,57 persen, dan Hang Seng yang menguat 1,24 persen.

Dari sisi internal, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi periode April 2026 yang terkendali sebesar 0,13 persen (MoM). Capaian tersebut membuat angka inflasi tahun kalender (YTD) saat ini menyentuh level 1,06 persen.

Sektor transportasi menjadi penyumbang utama inflasi dengan kenaikan harga yang mencapai angka 0,99 persen. Namun, terdapat kabar baik dari neraca perdagangan Maret 2026 yang berhasil membukukan surplus sebesar US$ 3,32 miliar.

Menanggapi fluktuasi harga akibat ketegangan global, BNI Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati sektor energi dan komoditas. Sektor ini dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik di tengah ketidakpastian situasi geopolitik dunia.

Beberapa ide perdagangan telah disiapkan untuk para pemodal pada sesi Selasa, 5 Mei 2026 ini. Saham AKRA disarankan untuk dibeli saat melemah (Buy on Weakness) pada area 1.530-1.550 dengan target harga di level 1.600-1.660.

Untuk saham MEDC, area beli yang direkomendasikan berada di posisi 1.685-1.720 dengan target keuntungan 1.770-1.820. Strategi Speculative Buy juga dapat diterapkan pada saham ENRG di area 1.680-1.710 dengan target 1.735-1.760.

Investor juga dapat melirik saham INDY pada area beli 3.650-3.700 dengan target harga yang dipatok pada 3.720-3.770. Sementara itu, untuk saham BULL, area beli yang perlu dicermati adalah 490-505 dengan target 520-535.

Saham CDIA disarankan untuk dikoleksi pada rentang harga 1.000-1.050 dengan target mencapai posisi 1.070-1.100. Saham PGAS dan PTBA tetap masuk dalam daftar pantauan dengan target harga masing-masing hingga level 1.970 dan 3.020.

Seluruh pelaku pasar diingatkan untuk tetap disiplin dalam menerapkan batasan cutloss pada setiap transaksi. Hal ini sangat krusial dilakukan guna mengelola risiko di tengah volatilitas pasar yang sedang tinggi.

Terkini