JAKARTA - Profesor Soedradjad Djiwandono menekankan pentingnya sinkronisasi kebijakan moneter dan fiskal agar berjalan selaras demi mencapai tujuan ekonomi nasional yang sama.
Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan tetap terjaga sekaligus mendukung produktivitas di sektor riil.
Profesor Emeritus Soedradjad Djiwandono menegaskan kebijakan moneter dan fiskal harus berjalan bersama-sama untuk mencapai tujuan ekonomi yang sama.
Pernyataan tersebut disampaikan untuk menyoroti perlunya keselarasan arah antara pemegang otoritas keuangan dan pengelola anggaran negara.
Kedua instrumen ekonomi tersebut memiliki peran yang berbeda namun harus diarahkan menuju satu titik sasaran yang seragam.
Pengelolaan yang terpisah tanpa adanya koordinasi yang kuat dikhawatirkan tidak akan mampu menjawab tantangan ekonomi secara menyeluruh.
Soedradjad menjelaskan bahwa kebijakan moneter bertugas untuk dikendalikan dan dikelola demi menjaga stabilitas moneter negara.
Di sisi lain, kebijakan fiskal hadir untuk memberikan dukungan dari sisi keuangan dalam struktur sistem ekonomi nasional.
“Kebijakan moneter dan fiskal harus berjalan bersama-sama dan masing-masing harus mencapai tujuan yang terbatas. Kebijakan moneter harus dikendalikan dan dikelola sementara kebijakan fiskal harus mendukung sisi keuangan,” ujar Profesor Emeritus Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia Prof. Dr. J. Soedradjad Djiwandono sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Penjelasan tersebut memberikan gambaran yang jelas mengenai adanya pembagian tanggung jawab antara kedua instrumen tersebut.
Meskipun memiliki batasan tujuan masing-masing, keduanya tetap menjadi satu kesatuan dalam menopang sistem ekonomi secara global.
Sinkronisasi kebijakan ini menjadi sangat mendesak karena satu kebijakan tunggal tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Instrumen yang berjalan secara beriringan akan menciptakan sinergi yang lebih kuat dalam mencapai target pertumbuhan yang dicanangkan pemerintah.
Pencapaian tujuan ekonomi nasional memerlukan penggunaan berbagai instrumen yang dikoordinasikan secara matang agar tetap pada jalurnya.
Soedradjad menambahkan bahwa dinamika pembangunan selalu berhubungan erat dengan bagaimana koordinasi antar kebijakan dilakukan dalam praktik lapangan.
Hal ini berkaitan dengan koordinasi fiskal serta pemanfaatan berbagai instrumen finansial yang tersedia saat ini.
Kombinasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak positif yang langsung dirasakan oleh pelaku usaha di sektor riil.
Pendekatan sinkronisasi ini melibatkan kerja sama lintas sektoral yang tidak hanya terbatas pada satu lembaga saja.
Dinamika tersebut terus berkembang seiring dengan kebutuhan untuk menciptakan stabilitas ekonomi yang lebih tangguh di masa depan.
Upaya ini bertujuan untuk memastikan bahwa setiap langkah kebijakan yang diambil benar-benar memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.
“Tapi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan yang betul-betul memperbaiki dan memberikan manfaat membutuhkan instrumen yang bersama-sama. Bekerja sama untuk mendapatkan tujuan yang sama, jadi ini adalah yang saya maksud dengan sinkronisasi,” ucapnya sebagaimana dilansir dari berita sumber.
Pernyataan ini menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang bersifat berkelanjutan hanya bisa dicapai melalui kerja sama tim yang solid.
Sinkronisasi kebijakan bukan sekadar istilah teknis, melainkan sebuah keharusan dalam menghadapi ketidakpastian kondisi ekonomi dunia saat ini.
Koordinasi yang efektif antara fiskal dan moneter akan menjadi fondasi utama dalam memperkuat daya tahan ekonomi dalam negeri.
Melalui keselarasan ini, diharapkan perbaikan ekonomi yang terjadi dapat memberikan dampak yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh pihak.
Profesor Soedradjad menutup paparannya dengan mengingatkan bahwa keselarasan ini harus terus dijaga demi kepentingan ekonomi nasional jangka panjang.