Tekanan Rupiah Berlanjut ke Rp 17.753 Per USD

Tekanan Rupiah Berlanjut ke Rp 17.753 Per USD
kurs rupiah di pasar spot melemah Rp 57 atau 0,32% menjadi Rp 17.753 per dolar Amerika Serikat. ( sumber : net )

JAKARTA - Tren kemerosotan nilai tukar mata uang rupiah masih terus berlangsung memasuki hari keenam perdagangan secara berturut-turut.

PADA hari Kamis (17/9), posisi kurs rupiah di pasar spot tercatat mengalami koreksi sebesar Rp 57 atau setara 0,32% hingga bertengger di level Rp 17.753 per dolar Amerika Serikat (AS).

Kondisi tersebut merepresentasikan rekor penurunan beruntun terpanjang bagi rupiah sejak pertengahan bulan Januari lalu.

Tekanan terhadap rupiah ini dipicu oleh dominasi penguatan dolar yang terjadi menjelang maupun seusai keputusan penggusuran suku bunga Fed Funds Rate oleh pihak Federal Reserve.

Adapun nilai tukar referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) turut melemah senilai Rp 41 atau 0,23% ke posisi Rp 17.753 per dolar AS.

Menariknya, pelemahan rupiah tidak berjalan seorang diri, melainkan seirama dengan tekanan yang menimpa aneka mata uang regional Asia lainnya.

Tercatat mata uang Won Korea merosot 0,64%.

Disusul oleh Ringgit Malaysia yang tertekan 0,55%.

Begitu pula Dolar Taiwan yang ikut melemah 0,27%.

Serta Peso Filipina yang terkoreksi tipis 0,02%.

Di sisi seberang, Yen Jepang justru menunjukkan performa menguat sebesar 0,31% terhadap dolar AS.

Demikian pula Dolar Singapura yang mendaki 0,12%.

Penguatan turut dialami Rupee India sebesar 0,03%.

Serta Baht Thailand yang menanjak 0,02%.

Sementara itu, pergerakan mata uang yuan China dan dolar Hong Kong terpantau cenderung mendatar (flat) terhadap dolar AS.

Di sisi lain, indeks dolar yang merepresentasikan nilai tukar greenback terhadap sekeranjang mata uang utama global pada sore hari ini tercatat menyusut tipis 0,05% ke angka 100,21.

Fakta ini menandai koreksi perdana bagi indeks dolar setelah sempat mencatatkan penguatan dalam enam hari transaksi berturut-turut.

Sepanjang hari Rabu (16/9) waktu Amerika Serikat, otoritas Federal Reserve resmi mengambil keputusan guna mendongkrak suku bunga acuan FFR sebesar 25 bps sehingga berada pada kisaran 3,75% sampai 4,00%.

Pihak Federal Reserve menilai bahwa tingkat inflasi telah bermukim pada teritori tinggi untuk kurun waktu yang relatif panjang.

Akibat pertimbangan tersebut, bank sentral Amerika Serikat terpaksa memberlakukan kebijakan pengetatan guna meredam laju inflasi yang membubung.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index