JAKARTA - Kebangkitan kualitas aset menjel???? elemen penentu yang kembali mendongkrak prospek surat berharga milik PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ataupun BRI.
Peluang kembalinya aliran modal investor luar negeri ke dalam instrumen saham BBRI pun terbuka lebar.
Bahkan proyeksi harga sahamnya mulai bermunculan.
Pihak Pluang Maju Sekuritas berpandangan bahwa tekanan terhadap mutu aset yang sempat mendepresiasi kinerja BRI dalam kurun dua tahun belakangan mulai berkurang, seiring pulihnya sektor pembiayaan mikro serta susutnya biaya pencadangan kredit.
“Biaya kredit turun ke bawah 4% untuk pertama kalinya sejak 2024 menjadi sinyal bahwa masalah yang membebani BRI selama dua tahun terakhir mulai teratasi,” kata Head of Research Pluang Maju Sekuritas, Jason Gozali di Jakarta, Kamis (17/9/2026) dari Sumbernya.
Dirinya mengutarakan bahwa penurunan rasio non-performing loan (NPL) atau kredit macet anyar pada lini mikro menjadi salah satu tanda positif pemulihan kinerja bank bersandi saham BBRI tersebut.
Tercatat NPL baru segmen mikro melandai dari level 5% pada triwulan pertama menuju angka 4% di triwulan kedua.
Perkembangan tersebut turut diiringi oleh perbaikan kualitas piutang dari golongan kredit dalam perhatian khusus.
Di samping itu, laju pertumbuhan current account saving account (CASA) mikro alias himpunan dana murah kategori mikro turut mencatatkan akselerasi.
Porsi CASA mikro mendaki dari posisi 2,4% secara tahunan (yoy) tatkala bulan Januari ke angka 5,6% yoy saat Juli.
“Ini sejalan dengan transformasi bisnis cabang sejak 2025,” tutur Jason dari Sumbernya.
Pihak BBRI pun telah merancang langkah-langkah pencegahan risiko lewat pencadangan provisi secara hati-hati terhadap paparan portofolio emiten pelat merah sektor konstruksi yang berisiko direstrukturisasi.
Dalam pada itu, BBRI terpantau telah mengeksekusi program pembelian kembali (buyback) saham dengan tingkat penyerapan anggaran menyentuh kisaran 18% dari batas atas pagu senilai Rp 500 miliar.
Implementasi aksi buyback saham BBRI ini wajib dicermati secara proporsional.
Berdasarkan pandangan Jason, tindakan buyback itu bukan sekadar instrumen penstabil harga saham di bursa, melainkan menjel???? bagian dari skema pembiayaan program kepemilikan saham bagi jajaran direksi serta pegawai.
Penerapan aksi buyback saham secara bertahap dan tidak terburu-buru dinilai selaras dengan misi program tersebut.
Bagi kalangan investor, titik fokus utama justru tertuju pada progres pemulihan mutu aset yang sedang dijalankan BRI.