FINANSIALFOKUS.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,38% ke level 6.436,85 pada perdagangan Rabu (16/9/2026), setelah sebelumnya sempat menyentuh 6.535,46. Pelemahan terjadi bersamaan dengan keputusan The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%–4%. Tekanan datang dari sektor utilitas dan teknologi yang masing-masing turun 1,84% dan 1,36%.
Keputusan The Fed menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin sesuai ekspektasi pasar. Meski demikian, proyeksi para pejabat bank sentral AS masih membuka peluang pengetatan kebijakan lanjutan.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menyebut pelemahan IHSG terjadi di tengah tekanan sektor utilitas yang turun 1,84% dan teknologi yang melemah 1,36%. Kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun hingga 5,04% serta harga minyak di atas US$100 per barel turut memperbesar tekanan terhadap aset pasar berkembang.
"Pelemahan terjadi di tengah tekanan sektor utilities (-1,84%) dan teknologi (-1,36%), sementara kenaikan UST 10Y hingga 5,04% dan harga minyak di atas US$100 per barel meningkatkan tekanan terhadap aset emerging market," ujar Reza dalam publikasi risetnya, Kamis (17/9/2026).
Tekanan Eksternal yang Perlu Dicermati Pasar Domestik
Reza menyebut imbal hasil US Treasury 10 tahun berada di sekitar 5%, indeks dolar AS (DXY) mendekati level 100, dan harga minyak masih di atas US$100 per barel. Kombinasi ketiga faktor tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap aset pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Perhatian pasar domestik selanjutnya akan tertuju pada dampaknya terhadap rupiah, aliran dana asing, dan ruang kebijakan Bank Indonesia. Implementasi kebijakan awal Menteri Keuangan Suahasil Nazara juga masuk dalam radar pelaku pasar.
"Perhatian pasar domestik selanjutnya akan tertuju pada dampaknya terhadap rupiah, foreign flow, dan ruang kebijakan BI, sekaligus implementasi kebijakan awal Menteri Keuangan Suahasil Nazara," jelas Reza.
Posisi Teknikal IHSG Masih dalam Tekanan
Dari sisi teknikal, IHSG dinilai masih berada dalam tekanan setelah mengalami breakdown MA20 di level 6.548 dan pola rising wedge. Indikator MACD juga menunjukkan bearish crossover yang mengindikasikan momentum negatif masih dominan.
"Selama belum kembali di atas 6.585, IHSG berpotensi melanjutkan pengujian support 6.390, dengan 6.220 sebagai support berikutnya," kata Reza.
Sebaliknya, apabila IHSG mampu kembali menembus level 6.585, indeks berpeluang mengalami technical rebound menuju level 6.705.
Rekomendasi Saham dari BRI Danareksa Sekuritas
BRIDS merilis sejumlah rekomendasi saham untuk perdagangan hari ini:
- INCO — Buy: target harga 4.930–5.000, stop loss di bawah 4.600
- BRMS — Buy: target harga 750–790, stop loss di bawah 700
- SRSN — Buy: target harga 4.050–4.350, stop loss di bawah 3.700
- INTD — Sell: target harga 252
Investor asing masih mencatatkan net sell di pasar reguler, menambah tekanan terhadap pergerakan IHSG. Sentimen pasar ke depan akan bergeser dari keputusan suku bunga The Fed menuju arah kebijakan atau guidance bank sentral AS.
Ketua The Fed menegaskan inflasi AS masih terlalu tinggi dan belum menunjukkan perbaikan yang cukup berarti. Kondisi tersebut membuat pasar domestik perlu mencermati sejumlah indikator eksternal dalam beberapa sesi mendatang.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.