JAKARTA - Bank Indonesia terus mendorong likuiditas perbankan untuk memperkuat penyaluran kredit ke sektor riil.
Salah satunya melalui kebijakan makroprudensial berupa insentif pengurangan kewajiban giro wajib minimum bagi perbankan.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan, insentif pengurangan GWM tersebut memungkinkan bank mendapatkan kembali dana yang sebelumnya ditempatkan sebagai GWM di BI.
Dengan kebijakan tersebut, dana yang dapat kembali ke perbankan diperkirakan mencapai sekitar Rp 500 triliun.
“Seperti contohnya untuk kebijakan ekonomi makroprudensial, kami juga sudah mengeluarkan berbagai insentif pengurangan GWM bagi bank-bank, bisa hingga 6% dari GWM yang total perbankan,” ujar dari Sumbernya saat melakukan rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9/2026).
Menurut dari Sumbernya, meski GWM perbankan berada di level 9%, melalui skema insentif tersebut secara efektif bank dapat memperoleh pengurangan hingga 6%.
Dana yang kembali ke perbankan selanjutnya diharapkan dapat digunakan untuk memperbesar penyaluran kredit.
“Jadi artinya ada sekitar Rp500 triliun yang uang akan kembali kepada bank, sehingga bank bisa menyalurkan kreditnya,” katanya.
Hingga saat ini, dari Sumbernya menyebut sekitar Rp 440 triliun dana telah kembali ke perbankan melalui kebijakan tersebut.
Pengembalian dana tersebut diberikan kepada bank yang memenuhi persyaratan penyaluran kredit ke sektor-sektor yang menjadi prioritas.
Sektor yang menjadi sasaran penyaluran kredit antara lain sektor yang menciptakan lapangan pekerjaan, pangan, perumahan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah.
Selain mendorong kredit ke sektor prioritas, BI juga ingin memastikan tambahan likuiditas tersebut benar-benar digunakan secara optimal oleh perbankan.
Dari Sumbernya menekankan agar dana perbankan tidak hanya ditempatkan pada surat berharga, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
“Dan juga terakhir juga optimalisasi dari bank dalam menyalurkan kreditnya, instead uangnya hanya ditaruh di surat berharga seperti di SRBI,” ujar dari Sumbernya.
Selain melalui insentif GWM, BI juga terus melakukan ekspansi kebijakan moneter untuk menjaga likuiditas di sistem keuangan.
Dari Sumbernya mengatakan, langkah tersebut dilakukan antara lain melalui pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.
“Dengan koordinasi yang juga makin kuat dengan Menteri Keuangan, dengan Kementerian Keuangan, maka Bank Indonesia juga terus melakukan ekspansi kebijakan moneter kami, termasuk kami melakukan pembelian dari SBN di pasar sekunder, itu sudah sekitar di atas Rp250 triliun,” kata dari Sumbernya.
Di sisi lain, BI juga terus mengurangi outstanding SRBI.
Dari Sumbernya menyebut posisi SRBI yang sebelumnya pernah mencapai hampir Rp1.100 triliun, kini telah turun menjadi Rp1.047 triliun per 10 September.
Penurunan juga terjadi pada imbal hasil SRBI tenor satu tahun.
Dari sebelumnya mencapai 7,74%, yield tersebut telah turun menjadi 6,94%.
Dari Sumbernya mengatakan, penurunan outstanding dan yield SRBI merupakan bagian dari upaya BI mengembalikan likuiditas kepada perbankan sehingga dapat mendukung penyaluran kredit.
“Tujuannya adalah mengembalikan dana itu sebenarnya kepada bank, agar bank itu juga akan bisa menyalurkan kreditnya,” pungkas dari Sumbernya.