JAKARTA - Penutupan Stasiun KRL Karet dan dimulainya proyek integrasi dengan Stasiun Sudirman Baru atau BNI City sudah genap seminggu pada Selasa (8/9/2026).
Pantauan Kompas.com di lokasi, area Stasiun BNI City nampak ramai dengan para pengguna di jam sibuk pulang kerja sore hari.
Tak lagi tampak pengguna KRL Commuter Line yang kebingungan saat melihat ditutupnya pintu masuk menuju Stasiun Karet.
Namun, tampak ada yang baru di jalan penghubung antara Stasiun Karet dan BNI City, yaitu kehadiran tenda bernuansa biru-putih lengkap dengan lampu yang dipasang sepanjang jalan hingga ke area pintu masuk BNI City.
Tenda ini membantu pengguna terhindar dari panas maupun hujan, serta meningkatkan penerangan di sepanjang jalan yang dinamakan Sudirman Baru Riverside itu ketika malam hari.
Setelah genap sepekan pengalihan stasiun, masih terdapat beragam tanggapan dari penumpang yang sebelumnya terbiasa menggunakan Stasiun Karet.
Reza (27), pegawai swasta, mengeluhkan sistem naik-turun penumpang yang tidak efisien di Stasiun BNI City.
“Kalau dari jarak sebenarnya enggak masalah, beberapa ratus meter aja, lima menit sampai. Tapi enggak efisien jadinya. Keluar stasiun itu masih jauh banget ke pinggir jalan untuk nyari ojol,” kata Reza saat ditemui di area Stasiun BNI City, Selasa.
Menurut Reza, ia dan sejumlah rekan-rekan sekantornya yang juga pengguna KRL sepakat bahwa sebenarnya jarak antara Stasiun Karet dan BNI City masih cukup dekat dan tidak menjadi masalah.
Namun, kata dia, masalahnya adalah ketika para penumpang menjadi harus membuang lebih banyak tenaga dan waktu karena akses yang tidak efisien.
“Ini kan dulu jadi stasiun khusus KA Bandara ya, kalau kayak gini jadi kelihatan dulu desainnya gagal, enggak matang nih,” ujar Reza.
“Dulu di Karet satset, turun langsung ketemu jalan raya dan ojol, sekarang harus naik turun tangga dan jalan lagi,” sambung dia.
Menurut dia, Stasiun BNI City seharusnya diintegrasikan dengan Stasiun Sudirman, bukan Stasiun Karet.
“Kan itu dempet banget, pintu keluarnya aja nyambung, Sudirman itu full banget, biar ada opsi lebih yang mau ke Dukuh Atas,” kata dia.
Senada, Rima (25) juga mengeluhkan akses keluar ke Stasiun Karet yang memaksanya harus naik dan turun tangga manual setelah turun KRL.