JAKARTA - Generasi Z kerap dicap mustahil memiliki rumah akibat lonjakan harga properti, dominasi kerja informal, hingga jeratan riwayat pinjaman daring (pindar).
Narasi pesimistis tersebut kini diberikan solusinya oleh MilikiRumah lewat skema PraKPR berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), yang sukses membuka jalan kepemilikan hunian pertama bagi kalangan muda.
Salah satu bukti nyatanya adalah Keiza Evelyn, pekerja muda yang baru saja berhasil menjadi pemilik rumah senilai lebih dari Rp600 juta di Darmawangsa Residence, Bekasi, padahal usianya baru menginjak 22 tahun.
Melalui skema PraKPR dengan mekanisme Rent-to-Own (sewa-beli), Keiza sudah bisa menempati hunian impiannya sambil memperbaiki profil finansial agar lolos kriteria Kredit Pemilikan Rumah (KPR) perbankan.
“Sebelumnya saya tidak yakin bisa memiliki rumah karena kondisi finansial belum ideal.
Melalui PraKPR dari MilikiRumah, saya mendapat arahan jelas tentang apa yang harus diperbaiki dan bagaimana menyiapkan diri agar layak mengajukan KPR,” kata Keiza.
Menurutnya, kesempatan menempati rumah selama proses tersebut membuatnya lebih termotivasi untuk memenuhi target kepemilikan.
Menariknya, pendampingan finansial yang awalnya dirancang selama 12 bulan berhasil dituntaskan Keiza dalam waktu kurang dari 6 bulan.
Arahan perbaikan kondisi keuangan, pelunasan kewajiban berkala, dan stabilisasi arus kas membuatnya resmi mengantongi persetujuan KPR bank jauh lebih cepat dari target semula.
Keberhasilan ini didukung oleh integrasi platform RightKey A.I., yang menyediakan fitur Buyer Intelligence dan Pathway Intelligence.
Teknologi ini memetakan profil calon pembeli muda, menganalisis kesiapan finansial mereka secara presisi, serta menyusun rute langkah nyata agar profil mereka dinilai sehat oleh analis kredit perbankan.
Selain dirasakan oleh Gen Z, pengalaman serupa juga didapatkan pasangan Suly Devita dan Hermanto, pelaku UMKM pemasok material konstruksi.
Dalam proses PraKPR, MilikiRumah membantu keduanya merapikan dokumentasi usaha, membangun rekam pembayaran, dan menyiapkan proses kepemilikan rumah di Darmawangsa Residence hingga selesai pada Agustus 2026.
“Sambil menempati hunian, kami berhasil membuktikan kapasitas finansial di hadapan perbankan hingga akhirnya lolos verifikasi kredit.
Karena unit rumahnya sudah bisa kami tempati, rasanya lebih fokus dan semangat untuk bisa segera memiliki,” ujar Suly.
Co-Founder dan CEO MilikiRumah, Winston Lee, menegaskan bahwa memiliki hunian adalah hak setiap orang, termasuk Gen Z, wirausahawan, maupun mereka yang pernah memiliki catatan kredit kurang mulus.
“Skema PraKPR dari kami membantu konsumen untuk membuktikan diri di hadapan bank.
Banyak calon pembeli yang awalnya belum bankable tetap berpotensi menjadi pemilik rumah apabila didampingi dengan proses yang tepat,“ ujar Winston.
Melalui pendekatan edukatif ini, MilikiRumah tidak sekadar mencap konsumen "layak" atau "tidak layak", melainkan mendampingi mereka menyelesaikan pekerjaan rumah finansialnya.
Begitu profil kredit dinilai solid, perbankan rekanan dapat menyetujui fasilitas KPR tanpa keraguan risiko gagal bayar.
Inovasi penjaminan kesiapan pembeli ini juga disambut antusias oleh pelaku industri properti.
Chief Commercial Officer MilikiRumah, Faizal Abdullah, mengungkapkan bahwa pihaknya ingin membantu pengembang tidak hanya menjaring konsumen dengan lebih cepat, tetapi juga memahami kualitas demand, menentukan tindakan yang tepat, dan meningkatkan peluang konversi hingga menjadi transaksi.
“Saat ini modul profiling konsumen berbasis AI tersebut telah diadopsi oleh lebih dari 200 proyek perumahan guna meningkatkan konversi penjualan dan menyaring calon pembeli potensial secara akurat,” jelas Faizal.
Saat ini, MilikiRumah tengah mendampingi puluhan calon pembeli lain di sejumlah proyek pilot di kawasan Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Karawang.
Keberhasilan Keiza menjadi sinyal positif bagi generasi muda lain bahwa dengan pendampingan teknologi yang tepat, status unbankable bukanlah hambatan untuk memiliki rumah sendiri di usia 20-an.
Perusahaan berkomitmen memperluas kemitraan perbankan dan pengembang demi mewujudkan impian hunian bagi jutaan masyarakat Indonesia yang selama ini terpinggirkan dari sistem kredit konvensional.