JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini Senin 31 Agustus 2026 diproyeksikan bakal bergerak fluktuatif dengan ditutup menguat terbatas di kisaran Rp17.600 sampai Rp17.850 per dolar AS.
Merujuk pada data analisis Doo Financial Futures, rupiah sukses menguat 0,29% atau naik 51 poin pada level Rp17.693,00 per dolar AS saat perdagangan, Jumat (28/8/2026).
Laju mata uang Garuda tercatat cukup tangguh sepanjang hari apabila disandingkan dengan dinamika nilai tukar di kawasan Asia Tenggara serta Asia Timur.
Mata uang won Korea Selatan memimpin apresiasi regional terhadap dolar AS dengan kenaikan berarti sebesar 0,70%, disusul dolar Taiwan menguat sebesar 0,25%, rupee India menguat sebesar 0,17%.
Dolar Singapura terhadap dolar AS turut menguat tipis sebesar 0,07% serta ringgit Malaysia menguat tipis 0,04%.
Di sisi lain, peso Filipina terhadap dolar AS mendapati depresiasi terdalam di Asia sebesar 0,66%, diikuti baht Thailand melemah sebesar 0,17%, yen Jepang tertekan tipis sebesar 0,08%, serta dolar Hong Kong dan yuan China melemah tipis sebesar 0,01%.
Sentimen positif pasar utama bersumber dari pelaksanaan aksi demonstrasi di bermacam daerah yang berjalan relatif aman serta terkendali.
Situasi yang terus stabil ini menyuguhkan rasa tenteram bagi kalangan investor serta meredam potensi ancaman geopolitik lokal.
Di samping itu, penanam modal menyambut positif ketegasan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru Destry Damayanti yang bertekad untuk terus memelihara independensi instansi sekaligus mengawal stabilitas nilai tukar rupiah.
Pernyataan itu dianggap menyajikan kepastian hukum dan kebijakan yang amat diperlukan oleh bursa keuangan saat ini.
Pakar Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan pada pekan ini, dinamika bursa diramalkan akan lebih fluktuatif seiring padatnya publikasi indikator ekonomi, baik dari domestik layaknya inflasi dan neraca perdagangan Indonesia, ataupun dari luar negeri layaknya data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls/NFP).
Situasi itu berdaya dorong membuat pemodal memilih teliti bersikap wait and see, seraya membuka kesempatan timbulnya aksi ambil untung (profit taking) dalam jangka pendek.