JAKARTA - Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo memastikan alur utama Sungai Barito di sekitar wilayah Kalahien, Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah, masih dapat dilalui kapal dan perahu.
Kepastian itu disampaikan setelah beredar video di media sosial yang memperlihatkan hamparan pasir di bagian tengah Sungai Barito.
Kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah sungai mengalami kekeringan.
Berdasarkan pemantauan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III pada Jumat (21/8/2026), Sungai Barito memang mengalami penurunan muka dan debit air akibat musim kemarau.
Namun, alur utama sungai masih memiliki aliran air dengan lebar sekitar 100 meter sehingga tetap dapat dilalui oleh kapal maupun perahu yang beraktivitas di sungai.
Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan, air merupakan fondasi penting bagi kehidupan sehingga ketersediaannya perlu dijaga melalui penanganan yang cepat sekaligus pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.
"Karena itu, ketika terjadi kekeringan, pemerintah harus bergerak cepat memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, sekaligus menyiapkan solusi jangka panjang agar masyarakat lebih tangguh menghadapi kekeringan"
ujarnya dari Sumbernya, dikutip Minggu (23/8/2026).
Sementara itu, Kepala BWS Kalimantan III Sandi Eriyanto menjelaskan, hamparan pasir yang terlihat dalam video merupakan bagian sungai yang tidak teraliri air akibat turunnya muka air karena musim kemarau.
Pada sejumlah bagian sungai juga diakuinya terlihat gosong atau tampak hamparan pasir.
Namun, kondisi tersebut tidak berarti Sungai Barito mengalami kekeringan secara keseluruhan.
Menurutnya, posisi pengambilan dokumentasi yang beredar di media sosial berada di atas Jembatan Kalahien.
Dari sudut pengambilan gambar tersebut, hamparan gosong yang cukup luas dapat memberikan kesan seolah-olah seluruh badan Sungai Barito mengalami kekeringan.
"Namun, ketika dilakukan pemantauan langsung, masih terlihat alur utama sungai yang berair dan tetap berfungsi sebagai jalur transportasi sungai"
kata dari Sumbernya.
Kementerian PU melalui BWS Kalimantan III pun terus melakukan pemantauan terhadap kondisi muka air dan alur sungai di Wilayah Sungai (WS) Barito, khususnya selama periode musim kemarau.
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan kondisi sungai sekaligus mengantisipasi dampak penurunan muka air terhadap aktivitas masyarakat dan transportasi sungai.
BWS Kalimantan III juga akan terus memperbarui informasi berdasarkan hasil pemantauan langsung di lapangan sehingga kondisi Sungai Barito dapat diketahui secara utuh dan akurat.
Di sisi lain, Kementerian PU mengimbau masyarakat untuk melihat informasi mengenai kondisi Sungai Barito secara menyeluruh dan tidak hanya berdasarkan dokumentasi dari satu sudut pengambilan gambar.
Penurunan muka air dan munculnya gosong merupakan kondisi yang terjadi pada sejumlah bagian sungai selama musim kemarau, sementara alur utama Sungai Barito di lokasi pemantauan masih berair dan dapat dilalui transportasi sungai.
Saudara-saudara kami di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7.
Mari kami mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi.