Proyeksi Pertumbuhan Tinggi Ekonomi Sulawesi Tengah Tahun 2026

Proyeksi Pertumbuhan Tinggi Ekonomi Sulawesi Tengah Tahun 2026
Muhammad Irfan Sukarna. ( SUMBER : NET )

PALU - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah menyebutkan perekonomian Sulawesi Tengah masih akan tumbuh tinggi di kisaran 6,5 hingga 8,1 persen secara tahunan pada 2026.

“Ekonomi Sulawesi Tengah pada 2026 diprakirakan masih tumbuh tinggi dalam rentang 6,5 sampai 8,1 persen dan inflasi Sulawesi Tengah diprakirakan tetap terjaga dalam kisaran sasarannya yang sebesar 2,5 plus minus satu persen,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah Muhammad Irfan Sukarna di Palu, Rabu.

Ia menyampaikan hal tersebut pada Seminar “Global Economic Challenges: Central Sulawesi’s Path Towards Resilient and Sustainable Growth”.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah masih akan tumbuh positif didukung oleh kinerja sektor industri pengolahan sebagai lapangan usaha utama Sulteng.

Ia menjelaskan perekonomian Sulawesi Tengah pada Triwulan II 2026 tumbuh 5,06 persen, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 8,32 persen.

Meski melambat, kata dia, pertumbuhan ekonomi tersebut memberikan andil sebesar 1,84 persen terhadap perekonomian nasional, terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan.

Menurut Irfan, di tengah prospek pertumbuhan yang masih positif, terdapat sejumlah risiko yang perlu menjadi perhatian karena dapat mempengaruhi perekonomian Sulawesi Tengah ke depan.

Dari sisi domestik, kata dia, pembatasan kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya bijih nikel berpotensi membatasi pasokan bahan baku industri pengolahan.

Di sisi lain, moratorium smelter kelas 1 menyebabkan penambahan kapasitas produksi Nickel Pig Iron dan Mixed Hydroxide Precipitate relatif terbatas.

“Selain itu, implementasi formula baru HPM juga berpotensi meningkatkan biaya bahan baku industri nikel,” ujar dia.

Sementara itu dari sisi eksternal, kata dia, ketidakpastian geopolitik global berpotensi mengganggu pasokan sulfur sekaligus meningkatkan biaya produksi industri berbasis MHP.

Ia mengatakan risiko cuaca juga perlu diperhatikan, terutama potensi El Nino yang dapat menekan produksi sejumlah sektor, seperti pertanian, perkebunan, dan perikanan di Sulawesi Tengah.

Di sisi lain, inflasi Sulawesi Tengah sepanjang 2025 tercatat sebesar 3,31 persen.

Untuk 2026, BI memprakirakan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5 plus minus satu persen.

Menurut dia, kondisi tersebut didukung oleh penguatan upaya pengendalian inflasi dan terjaganya stabilitas pasokan.

Meski demikian, tekanan inflasi masih perlu diwaspadai, terutama akibat potensi El Nino, fragmentasi geopolitik global, kenaikan harga energi dan biaya distribusi, serta dinamika pasokan pangan.

Ia mengatakan pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas pasokan tetap menjadi faktor penting agar inflasi Sulawesi Tengah berada dalam sasaran pada 2026.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index