JAKARTA - Pasar keuangan nasional ditutup beragam.
Bursa efek menanjak, surat utang negara tetap, sedangkan mata uang rupiah terkoreksi di tengah isu penyeimbangan kembali MSCI serta ancaman geopolitik yang terus menghantui sektor keuangan domestik.
Sektor keuangan Indonesia diprediksi masih akan menemui kendala hari ini, utamanya akibat penyeimbangan kembali MSCI dan sentimen laporan anggaran yang dijadwalkan pada penghujung pekan ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat saat sesi perdagangan Rabu (12/8/2026), usai mengalami koreksi tajam pada sesi sebelumnya.
Berdasarkan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), saat penutupan perdagangan pukul 16.00 WIB IHSG berada di posisi 6.373,85 atau meningkat 1,69% dari penutupan tempo hari.
Total transaksi mencapai Rp 17,36 triliun dengan volume perdagangan 32,68 miliar saham dalam 2,07 juta kali transaksi.
Terdapat 474 saham menguat, 185 saham melemah, dan 304 saham masih tidak berubah.
Pada perdagangan kemarin, terlihat pihak asing membukukan pembelian bersih sebesar Rp 725,21 miliar di seluruh pasar dan mencatat penjualan bersih di pasar reguler sebesar Rp 482,79 miliar.
Dengan demikian jika data dihitung secara tahun berjalan bursa saham mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 70,43 triliun di seluruh pasar dan Rp 95,17 triliun di pasar reguler.
Sepanjang perdagangan kemarin, IHSG berada di kisaran 6.272 (+0,08%) hingga level puncak mencapai 6.373 (+1,69%).
Sebagian besar sektor perdagangan menanjak, dengan lonjakan tertinggi dibukukan oleh sektor utilitas, teknologi, serta barang baku.
Sementara hanya sektor properti yang tercatat mengalami penurunan kemarin.
Secara rinci emiten konglomerat tercatat kompak melonjak menjelang pengumuman MSCI, utamanya saham-saham yang bernaung di Grup Barito milik orang terkaya RI Prajogo Pangestu.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menjadi tiga perusahaan yang menyokong pergerakan indeks.
Di sisi lain, perusahaan lain yang turut memberikan dampak positif ialah PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Indosat Tbk (ISAT), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Dari pasar uang, kurs rupiah kembali menutup perdagangan di teritori negatif terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan kali ini menambah durasi tekanan terhadap mata uang Garuda dalam dua hari perdagangan berturut-turut.
Mengacu data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,20% ke angka Rp17.865/US$ pada perdagangan Rabu (12/8/2026).
Setelah pada perdagangan sebelumnya, rupiah juga terkoreksi hingga 0,45% ke posisi Rp17.830/US$.
Tekanan terhadap rupiah meningkat dibanding posisi pembukaan.
Rupiah memulai perdagangan dengan penurunan tipis 0,06% di level Rp17.840/US$, lalu kehilangan 25 poin hingga penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang memantau kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau naik tipis 0,03% ke angka 99,856.
Aktivitas rupiah masih dipengaruhi sikap waspada pelaku pasar menjelang pengumuman inflasi konsumen AS periode Juli pada Rabu waktu setempat.
Informasi tersebut akan menjadi acuan terkini dalam memprediksi arah bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).
Laporan ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari ekspektasi awal membuka peluang bagi The Fed untuk menjaga suku bunga.
Akan tetapi, risiko inflasi yang masih tinggi membuat pasar belum sepenuhnya menutup potensi kenaikan suku bunga.
Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee mengatakan bank sentral saat ini lebih mencemaskan inflasi yang terlalu tinggi dibandingkan pelemahan pasar tenaga kerja.
Pasar kini menghitung potensi sebesar 62% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, sedangkan peluang kenaikan 25 basis poin ada di level 38%.
Sementara dari sisi Surat Berharga Negara (SBN), imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia mengalami stagnasi.
Hal ini menunjukkan investor tidak memiliki kecenderungan tertentu dalam membeli obligasi di pasar tersebut.
SBN berada di level 7.226% pada perdagangan kemarin, di mana pada hari sebelumnya imbal hasil SBN 10 tahun terlihat juga ditutup pada level 7.226%.