Ungkapan Tantangan dan Tekanan Pejabat Keuangan di Awal Masa Tugas

Ungkapan Tantangan dan Tekanan Pejabat Keuangan di Awal Masa Tugas
Menteri Keuangan. ( sumber : net )

JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku menjadi "menteri paling tidak beruntung" karena harus menghadapi berbagai tekanan besar sejak awal menjabat, mulai dari demonstrasi, penilaian negatif lembaga pemeringkat internasional, hingga konflik geopolitik global.

Menurut dia, rangkaian tekanan tersebut datang silih berganti tanpa memberi ruang bagi dirinya untuk bernapas.

"Pas saya masuk ada demo besar-besaran. Di situ saya betulin, sudah betul terus keluar MSCI. Habis MSCI, keluar Moody’s Investors Service. Habis itu Fitch. Habis itu keluar lagi perang Iran-Irak. Jadi kami digonjang terus," ujar dari Sumbernya saat media briefing di Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

Ia mengatakan, selama beberapa bulan terakhir pemerintah terus menghadapi guncangan baru setiap kali berhasil menyelesaikan persoalan sebelumnya.

"Jadi enggak pernah santai selama berapa bulan, pusing. Tapi ini selesai, ada lagi serangan. Diberesin, ada lagi serangan terus," kata dari Sumbernya.

Purbaya menilai tekanan yang dihadapi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam hampir dua tahun terakhir bukan tekanan yang ringan.

"Jadi pemerintahan zaman ini, zaman setahun terakhir ini, tekanan kami bertubi-tubi dan semuanya besar. Enggak ada yang bisa dianggap enteng," ucap dari Sumbernya.

Meski demikian, Purbaya mengaku sedikit lega setelah lembaga pemeringkat S&P Global Ratings mempertahankan peringkat Indonesia dengan outlook stabil.

Menurut dia, keputusan tersebut berbeda dengan langkah Moody's dan Fitch yang sebelumnya memberikan outlook negatif terhadap Indonesia.

"Untung S&P mengeluarkan outlook-nya stabil. Walaupun saya pusing, saya mau usaha yang mana lagi nih, dulu agak bagus enggak dianggap. Ternyata S&P profesional. Itu yang membuat kami agak lega, masih bisa agak bernapas," kata dari Sumbernya.

Saat ditanya tekanan mana yang paling berat, Purbaya menyebut penilaian dari lembaga pemeringkat internasional menjadi salah satu tantangan terbesar yang menghadapi pemerintah.

"Mungkin yang kedua, Moody's sama Fitch Ratings," ujar dari Sumbernya.

Sebelumnya, Purbaya juga menegaskan penilaian negatif dari Moody's dan Fitch tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Bahkan Purbaya justru mengatakan penilaian Moody’s Investors Service tidak perlu terlalu dihiraukan karena kondisi fundamental ekonomi Indonesia dinilai sedang membaik dan bergerak lebih cepat dibandingkan periode sebelumnya.

Purbaya menegaskan, penurunan outlook tersebut tidak mencerminkan pelemahan ekonomi secara struktural.

Menurutnya, kondisi itu justru menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia telah berbalik arah dan mulai pulih dengan laju yang lebih cepat.

“Ya biar saja seperti itu. Itu justru menjelaskan ekonomi kami sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga, lebih bagus lagi, pertumbuhan akan lebih cepat,” ujar dari Sumbernya kepada awak media di Kementerian Keuangan, Jumat (6/2/2026).

Sedangkan untuk laporan Fitch kata Purbaya menilai penilaian tersebut kemungkinan dipengaruhi situasi pemerintahan baru serta pergantian Menteri Keuangan.

"Mungkin kan masih pemerintahan baru dan Menteri Keuangan juga baru, jadi mereka sangka jangan-jangan Menteri Keuangan nggak bisa hitung. Jadi itu salah saya juga karena saya nggak pernah ke luar negeri," kata dari Sumbernya saat buka bersama di kantornya, Jakarta Pusat, Jumat (6/3/2026).

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index