Banda Aceh - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Aceh mengajak masyarakat menerapkan empat langkah belanja bijak sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi dan menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih membayangi daerah.
Kepala KPwBI Aceh, Agus Chusaini, mengatakan perilaku konsumsi masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara permintaan dan ketersediaan pasokan di pasar.
Karena itu, BI mendorong masyarakat menerapkan empat prinsip belanja bijak, yakni bijak membeli, bijak memilih, bijak mengonsumsi, dan bijak bertransaksi.
"Empat langkah yang dimaksud meliputi bijak membeli, bijak memilih, bijak mengonsumsi, dan bijak bertransaksi,"
ujar dari Sumbernya, Rabu (29/7/2026).
Ia menjelaskan, masyarakat diimbau membeli barang sesuai kebutuhan, mengutamakan pangan lokal, memanfaatkan bumbu olahan yang lebih awet dan terjangkau, mengurangi pemborosan pangan, serta membiasakan transaksi non-tunai yang lebih praktis dan efisien.
Selain mengedukasi masyarakat, BI Aceh juga terus memperkuat pengendalian inflasi melalui strategi 4K, yaitu menjaga keterjangkauan harga, memastikan ketersediaan pasokan, memperlancar distribusi, serta memperkuat komunikasi yang efektif dengan seluruh pemangku kepentingan.
Menurut Agus, sejumlah faktor masih berpotensi menekan inflasi di Aceh.
Di antaranya kerusakan lahan persawahan akibat bencana yang berisiko memicu gangguan produksi beras.
"Masih terdapat lahan persawahan yang mengalami kerusakan pascabencana, kondisi ini dapat memicu supply shock produksi beras,"
katanya.
Tekanan inflasi juga berpotensi muncul seiring masuknya musim tanam cabai merah di sentra produksi dataran tinggi Aceh.
Sementara itu, prakiraan gelombang tinggi di wilayah barat selatan Aceh diperkirakan dapat menghambat aktivitas penangkapan ikan dan distribusi hasil perikanan sehingga memengaruhi pasokan di pasar.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh, inflasi tahunan (year-on-year) pada Juni 2026 tercatat sebesar 5,84 persen, sedangkan inflasi bulanan (month-to-month) mencapai 0,56 persen dibandingkan Mei 2026.
Komoditas penyumbang utama inflasi bulanan meliputi bensin, cabai merah, bawang merah, ikan dencis, dan beras.
Sementara secara tahunan, kenaikan harga didorong oleh nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, cabai merah, dan bensin.
Meski demikian, Agus memperkirakan laju inflasi Aceh sepanjang 2026 akan lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya.
Optimisme tersebut didukung oleh efek basis tinggi (high base effect) pascabencana pada akhir 2025 serta mulai pulihnya distribusi pangan di berbagai daerah.
Ia menegaskan, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat ketidakpastian ekonomi global dan potensi gangguan pasokan masih menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga di Aceh.