JAKARTA – Harga emas kembali menguat pada Rabu (29/7/2026) setelah Federal Reserve AS (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan.
Pelemahan dolar AS dan imbal hasil obligasi Pemerintah AS membuat emas lebih menarik bagi investor global di tengah kekhawatiran inflasi.
Harga emas spot naik 1,9% menjadi US$ 4.101,99 per ons setelah sebelumnya menyentuh US$ 4.116,26 per ons, level tertinggi sejak 23 Juli 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus ditutup sekitar 0,1% lebih rendah pada US$ 4.036,30 per ons.
Baca Juga: 'Update' Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Naik Rp 7.000 per Gram The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran 3,5%-3,75%.
Keputusan tersebut menjadi perhatian pasar karena investor mencermati arah kebijakan bank sentral AS di bawah Ketua Federal Reserve Kevin Warsh, terutama terkait upaya mengembalikan inflasi ke target jangka panjang 2%.
Keputusan itu turut menekan dolar AS terhadap euro.
Pelemahan dolar membuat emas yang dihargai dalam mata uang AS menjadi relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Pada saat yang sama, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun memangkas kenaikan sebelumnya.
Penurunan imbal hasil obligasi memberikan dukungan terhadap emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil bunga.
“Logam mulia memimpin reli aset yang moderat meskipun Ketua Warsh terdengar cukup hawkish secara keseluruhan, ini terasa seperti reli pemulihan setelah The Fed mempertahankan suku bunga tetap.
Tidak jelas berapa lama ini akan berlangsung.
Gaya bahasa Warsh canggih dan cukup kompleks, jadi pasar mungkin akan berubah pikiran setelah refleksi yang lebih dalam,” kata Tai Wong, seorang pedagang logam independen dilansir CNBC, dari Sumbernya.
Warsh mengatakan bahwa bank sentral AS tidak memiliki “target lunak” yang lebih tinggi untuk inflasi dan bertekad mencapai target jangka panjang sebesar 2%, meskipun suku bunga tetap tidak berubah di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa The Fed masih menempatkan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama.
Sikap itu membuat pasar harus menimbang kembali kemungkinan perubahan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan.
“Pasar obligasi jangka panjang sedang panik dan menyeret saham turun menjelang penutupan.
Ketakutan akan inflasi membantu emas berkinerja lebih baik,” tambah Wong, mengutip sifat tradisional emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi, dari Sumbernya.
Perubahan ekspektasi tersebut terlihat dari pasar suku bunga.
Para pedagang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September sebesar 64%, turun dari sekitar 81% sebelum pernyataan kebijakan The Fed, berdasarkan alat FedWatch dari CME Group.
Perbedaan ekspektasi itu mencerminkan ketidakpastian pasar terhadap arah kebijakan moneter AS.
The Fed sebelumnya telah mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juni, dengan inflasi masih berada di atas target 2% dan tekanan harga energi menjadi salah satu faktor yang diperhatikan bank sentral.
Baca Juga: Harga Emas Antam (ANTM) Turun Rp 12.000, 'Buyback' Ikut Melemah Investor kini mengalihkan perhatian ke data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures AS untuk Juni yang dijadwalkan terbit pada Kamis (30/7/2026).
Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi pasar untuk membaca arah inflasi dan kebijakan moneter selanjutnya.
Pergerakan positif tidak hanya terjadi pada emas.
Harga perak naik 3,2% menjadi US$58,96 per ons pada perdagangan Rabu (29/7/2026).
Harga platinum juga meningkat 1,9% menjadi US$1.636,10 per ons.
Sementara itu, paladium menguat 1% menjadi US$1.281,75 per ons.