JAKARTA – Otoritas moneter bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) diestimasikan tidak bakal mengambil keputusan aksi besar sekurang-kurangnya hingga kurun waktu bulan September 2026.
Situasi kondisi tersebut berpotensi memicu pergerakan harga emas agar cenderung mendatar sepanjang rentang waktu tiga sampai dengan enam bulan ke depan, bahkan mempunyai peluang berlangsung hingga awal tahun 2027.
Kepala Strategi Pasar pada lembaga SIA Wealth Management, yakni Colin Cieszynski, mengemukakan bahwa meletusnya eskalasi konflik perang Iran telah memantik tingkat volatilitas tinggi di sektor pasar energi serta mendongkrak ekspektasi kenaikan inflasi.
Di tengah situasi tersebut, pihak The Fed diprediksikan bakal berupaya keras menghindari pelbagai rumusan kebijakan yang berisiko memperparah gejolak pasar keuangan.
Ia menegaskan secara tegas bahwa unsur ketidakpastian perihal stabilitas tingkat harga serta dinamika situasi di kawasan Timur Tengah memunculkan tingkat risiko yang tergolong masif bagi kalangan investor yang berniat mengambil posisi di pasar komoditas emas.
“Emas telah mengalami reli yang sangat besar,” kata Cieszynski, seperti dilansir Kitco News, dikutip pada Rabu (29/7/2026), dari Sumbernya.
Berdasarkan pandangannya, mayoritas porsi risiko perang sejatinya telah tercermin secara langsung di dalam struktur harga emas.
Kendati demikian, fase koreksi penurunan dari level US$ 5.500 menuju kisaran US$ 4.000 per ons troi ternyata belum sepenuhnya menghapuskan unsur premi risiko geopolitik dari ranah pasar.
Baca Juga: Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Rabu 29 Juli 2026: Terus-terusan Merosot “Penurunan itu memang mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap perang, tetapi tidak seluruhnya.
Harga emas masih berada di level tinggi dan muncul kekhawatiran kondisi ini akan memaksa bank sentral menaikkan suku bunga,” jelasnya, dari Sumbernya.
Cieszynski turut menilai bahwa ketersediaan data inflasi yang ada saat ini cenderung merefleksikan kondisi pada kurun waktu masa lalu atau memiliki sifat yang tertinggal (lagging).
Ia memberikan estimasi bahwa angka inflasi berpotensi kembali menanjak naik dalam rentang waktu satu atau dua bulan ke depan, seandainya tren harga komoditas minyak terus mengalami kenaikan.
Baca Juga: Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Rabu 29 Juli 2026, Cek Update-nya “Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat kemungkinan dolar AS mulai menguat.
Penguatan dolar akan menjadi tekanan bagi harga emas,” ucapnya, dari Sumbernya.
Komoditas emas secara karakteristik umumnya senantiasa berhadapan dengan tekanan pelemahan tatkala nilai tukar mata uang dolar AS merangkak naik, mengingat logam mulia tersebut ditransaksikan dengan menggunakan denominasi mata uang Paman Sam.
Akselerasi penguatan mata uang dolar tersebut secara otomatis menjadikan komoditas emas terasa jauh lebih mahal bagi para pemegang mata uang asing lainnya.
Lebih lanjut, Cieszynski berpandangan bahwa posisi harga emas saat ini tengah berada dalam fase memburu titik keseimbangan baru, usai melewati gelombang reli masif serta fase koreksi harga yang tajam.
Baca Juga: Skenario Baru Harga Emas, Siap-siap Menguat ke Level Ini “Kami sudah tidak lagi berada di US$ 3.000, tetapi juga tidak lagi berada di US$ 5.500.
Harga sedang mencari keseimbangan di antara kedua level tersebut,” tutur dia, dari Sumbernya.
Berpijak pada pertimbangan argumen tersebut, Cieszynski menjatuhkan pilihan sikap netral terhadap prospek pergerakan emas untuk sementara waktu.
Baca Juga: Emiten Emas Ini Masuk 5 Besar Asia, Bersiap Membalikkan Keadaan “Saya belum mengetahui faktor apa yang dibutuhkan agar harga emas kembali bergerak kuat.
Emas telah mengalami reli yang sangat besar, kemudian terkoreksi tajam, dan sekarang pasar perlu menemukan keseimbangan baru.
Proses ini bisa membutuhkan waktu tiga hingga enam bulan,” pungkasnya, dari Sumbernya.