JAKARTA - Ia menilai penguatan pasar keuangan Indonesia dalam sepekan terakhir merupakan perkembangan yang positif, meski belum menghilangkan kebutuhan bank sentral untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya pada Rapat Dewan Gubernur BI bulan Juli.
Menurut Fakhrul, perbaikan sentimen tersebut didukung oleh meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia, termasuk setelah keputusan S&P mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level investment grade BBB dengan outlook stabil.
Namun demikian, menurut dia, stabilisasi pasar dalam jangka pendek tidak boleh diartikan bahwa seluruh tantangan eksternal telah selesai.
"Pasar memang menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan dalam satu minggu terakhir. Namun kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar. Karena itu, momentum positif ini justru perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel," kata Fakhrul.
Ia memperkirakan, Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal sekitar 11 miliar dolar AS hingga akhir tahun untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.
Dalam konteks tersebut, Fakhrul menilai bahwa Bl masih perlu memberikan daya tarik aset keuangan domestik melalui langkah kebijakan yang konsisten.
"Menurut kami, Bank Indonesia masih perlu melanjutkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada RDG Juli. Ini bukan semata-mata karena kondisi pasar saat ini, tetapi karena BI sebelumnya telah menyampaikan pendekatan yang bersifat pre-emptive. Kredibilitas bank sentral dibangun ketika komunikasi tersebut diikuti oleh implementasi kebijakan," kata Fakhrul.
Sebagai catatan, kenaikan BI-Rate sebesar 50 basis poin pada Mei 2026 menjadi penyesuaian pertama setelah bunga acuan berada pada level 4,75 persen sejak September 2025.
Namun, rupiah masih terus melemah hingga sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS pada awal Juni.
Melalui Rapat Dewan Gubernur BI Mingguan pada 9 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps.
Sejak keputusan tersebut, rupiah secara bertahap kembali bergerak di bawah level Rp18.000 per dolar AS.
Pada RDG Bulanan 18 Juni 2026, BI juga melanjutkan pengetatan kebijakan moneter dengan kembali menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen.
Selanjutnya, BI dijadwalkan kembali menggelar RDG Bulanan pada 21-22 Juli 2026.
Pada Senin (20/7), nilai tukar rupiah berdasarkan kurs JISDOR ditutup pada level Rp17.976 per dolar AS.