Laba Bersih BBTN Naik 41 Persen, Analis Pertahankan Rekomendasi Buy

Laba Bersih BBTN Naik 41 Persen, Analis Pertahankan Rekomendasi Buy
Ilustrasi Komplek perumahan bersubsidi yang menjadi salah satu segmen pembiayaan KPR PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN). (FOTO:NET)

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) kembali mencatatkan performa keuangan yang melampaui perkiraan sepanjang paruh pertama tahun 2026.

Berdasarkan laporan riset dari Ciptadana Sekuritas pada tanggal 17 Juli, keuntungan bersih BBTN melesat hingga 41% secara tahunan (YoY), yang utamanya didorong oleh penurunan tajam pada biaya pencadangan (cost of credit/CoC) seiring dengan peningkatan kualitas portofolio aset mereka.

Situasi positif ini membuat pihak analis tetap merekomendasikan opsi Beli (Buy) bagi saham BBTN dengan target harga yang dipatok pada level Rp1.925 per lembar.

Pada periode kuartal II 2026 saja, BBTN sukses mengantongi keuntungan bersih senilai Rp1,29 triliun, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 61% YoY serta kenaikan 17% secara kuartalan (QoQ).

Melalui tambahan tersebut, akumulasi laba bersih perusahaan sepanjang semester I 2026 telah menyentuh angka Rp2,4 triliun, atau mengalami kenaikan sebesar 41% jika disandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Pencapaian riil ini sudah memenuhi kisaran 58% dari total estimasi yang dibuat oleh Ciptadana, sekaligus mencakup 62% dari proyeksi konsensus pasar untuk keseluruhan tahun 2026, yang menegaskan bahwa performa bank berada di atas target awal.

Faktor pemacu utama dari lonjakan keuntungan bersih ini bersumber dari menyusutnya alokasi dana untuk cadangan kerugian kredit.

Rasio Cost of Credit (CoC) di paruh pertama tahun 2026 terpantau menyusut hingga menyentuh level 0,7%, angka yang jauh lebih rendah daripada catatan periode serupa tahun lalu yang bertengger di posisi 2,0%.

Bahkan masuk ke kuartal II 2026, rasio CoC sanggup ditekan lagi hingga tersisa 0,5%, sebuah rekor terendah dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang.

Pihak analis memaparkan bahwa ini merupakan periode kuartal kedua secara berturut-turut di mana raihan profit disokong oleh efisiensi dana cadangan.

Kondisi tersebut dinilai menjadi representasi dari pemulihan mutu aset yang terjadi secara konsisten dan berkelanjutan, bukan sekadar fenomena sesaat.

Langkah efisiensi pada pos pencadangan ini juga berjalan selaras dengan indikator kesehatan kredit korporasi yang terus memperlihatkan grafik positif.

Terdapat sejumlah indikator fundamental yang menonjol, di antaranya posisi NPL gross yang melandai ke angka 3,0% dari level 3,1% pada periode kuartal terdahulu.

Selain itu, rasio Loan at Risk (LAR) juga mencatatkan perbaikan ke level 18,6% dari angka sebelumnya yang sempat menyentuh 19,6%.

Pihak manajemen bank saat ini memproyeksikan bahwa rasio NPL berpotensi melandai hingga ke kisaran 2,8% sampai 2,9% pada akhir tahun 2026 nanti.

Walau demikian, manajemen tetap memasang proyeksi CoC tahun 2026 pada rentang 1,0% hingga 1,2% demi asas kehati-hatian, kendati ada peluang besar realisasinya akan menyentuh batas paling bawah jika tren perbaikan mutu aset ini terus terjaga.

Laju penyaluran kredit BBTN juga terakselerasi sebesar 11,2% YoY, yang dipicu terutama oleh rampungnya proses akuisisi tahap awal untuk portofolio kredit pensiunan milik SMBC dengan nilai mencapai Rp12,6 triliun.

Apabila kontribusi dari aksi akuisisi eksternal tersebut dikesampingkan, maka pertumbuhan kredit yang terjadi secara organik terbilang masih cukup terbatas.

Lini bisnis yang masih menjadi roda penggerak utama di antaranya adalah sektor Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi yang mampu tumbuh sebesar 8% YoY.

Sementara itu, untuk sektor KPR non-subsidi komersial tercatat hanya tumbuh tipis sebesar 2% YoY dan cenderung bergerak mendatar secara kuartalan.

Pihak manajemen menargetkan proses finalisasi untuk akuisisi tahap kedua dengan nilai Rp7,3 triliun dapat diselesaikan pada kuartal III 2026.

Tidak hanya itu, BBTN dikabarkan turut membuka peluang untuk melakukan akuisisi portofolio kredit konsumer dari perbankan swasta asing lainnya pada tahun 2027 mendatang.

Di tengah situasi pembengkakan biaya dana (Cost of Fund), BBTN terbukti tetap andal dalam mempertahankan rasio Net Interest Margin (NIM) agar stabil di angka 3,6% pada kuartal II 2026.

Menurut pandangan analis, peningkatan pada yield aset terbukti ampuh dalam meredam tekanan akibat tingginya biaya dari sektor pendanaan.

Langkah akuisisi pada portofolio kredit pensiunan diprediksi akan mendongkrak tingkat yield aset lebih jauh di paruh kedua tahun 2026 karena portofolio ini menawarkan tingkat imbal hasil berkisar 12% hingga 16%.

Angka tersebut berada jauh di atas rerata portofolio pinjaman BBTN yang umumnya berada di kisaran 8%, namun memiliki tingkat risiko kredit yang tergolong rendah karena menerapkan sistem potong gaji (payroll).

Tim analis dari Ciptadana memberikan penilaian bahwa BBTN masih menjadi salah satu opsi saham perbankan dengan nilai valuasi paling murah di pasar domestik saat ini.

Kini saham BBTN ditransaksikan pada rasio Price to Book Value (PBV) di kisaran 0,4 kali, padahal target harga sebesar Rp1.925 ditetapkan memakai acuan valuasi 0,7 kali PBV FY2026, sehingga analis tetap merekomendasikan opsi Beli.

Walaupun memiliki prospek cerah, ada beberapa faktor risiko yang tetap wajib diwaspadai karena berpotensi mengganggu laju performa BBTN ke depannya.

Faktor tersebut meliputi tingkat suku bunga yang berpotensi bertahan di level tinggi dalam durasi yang lebih lama dari estimasi awal.

Kondisi likuiditas di sektor perbankan yang kian mengetat sehingga dapat mengerek biaya dana, serta potensi perlambatan kredit andai permintaan pasar melemah.

Para pemodal disarankan untuk terus mengamati konsistensi dari tren penurunan biaya cadangan ini pada paruh kedua tahun berjalan.

Di samping itu, aspek perkembangan mutu aset, eksekusi akuisisi kredit pensiunan fase kedua, serta kapabilitas bank dalam menjaga margin bunga di tengah ketatnya likuiditas akan menjadi faktor penentu performa hingga akhir 2026.

Secara garis besar, performa keuangan BBTN di paruh pertama tahun 2026 memperlihatkan sinyal pemulihan yang semakin kuat.

Efisiensi pada biaya pencadangan sukses memicu lompatan laba bersih hingga berada jauh di atas estimasi awal, sementara mutu aset kian sehat berkat penurunan angka NPL serta LAR.

Di sudut lain, ekspansi kredit mulai mendapat asupan tenaga baru lewat aksi akuisisi portofolio kredit pensiunan yang berpeluang menaikkan yield aset perusahaan.

Berbekal angka valuasi saham yang terhitung masih rendah, pihak Ciptadana mempertahankan saran Beli dengan target harga Rp1.925, walaupun investor disarankan tetap waspada terhadap risiko bunga tinggi serta pengetatan likuiditas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index