SEOUL - Pasar modal Korea Selatan mengalami kejatuhan yang sangat mendalam pada sesi transaksi Kamis (16/7/2026) akibat tertekan oleh gelombang pelepasan aset pada kelompok saham industri semikonduktor.
Di kurun waktu yang bersamaan, lembaga Bank of Korea (BOK) mengambil langkah mengerek tingkat suku bunga acuannya demi kali pertama dalam durasi di atas tiga tahun untuk menyokong performa mata uang won.
Menukil laporan Reuters, indikator acuan KOSPI merosot sebanyak 502,44 poin atau setara 6,90% menuju level 6.781,97 pada pukul 01.13 GMT.
Langkah penurunan yang masif tersebut menyapu bersih seluruh rapor penguatan yang sempat diukir pada sesi perdagangan sebelumnya.
Hantaman aksi jual yang sangat kuat ini pun memicu aktifnya regulasi mekanisme "sidecar", yakni berupa pembekuan sementara untuk aktivitas transaksi program (program trading) yang diterapkan demi menekan fluktuasi pasar.
Pada ranah ketetapan moneter, jajaran dewan kebijakan Bank of Korea yang berisi tujuh anggota menetapkan keputusan untuk menaikkan tingkat suku bunga repo tujuh hari sebesar 25 basis poin menuju angka 2,75%.
Kebijakan tersebut digulirkan demi mendongkrak nilai tukar won yang kedapatan sudah menyusut kisaran 3% terhadap mata uang dolar Amerika Serikat di sepanjang tahun berjalan ini.
Ketetapan tersebut berjalan selaras dengan prediksi yang berkembang di pasar.
Berdasarkan jajak pendapat yang dirilis Reuters terhadap 37 pakar ekonomi, tercatat hanya ada satu responden yang memproyeksikan tidak adanya kenaikan tingkat suku bunga.
Langkah moneter ini pun menjadikan kiblat kebijakan Bank of Korea kian searah dengan Bank of Japan (BOJ) yang pada momentum sebelumnya telah mengerek suku bunga acuan mereka menuju level tertinggi dalam kurun waktu 31 tahun.
Pasca-diumumkannya ketetapan tersebut, posisi nilai konversi won bertengger di level 1.487,6 per dolar AS, atau terpantau sedikit lebih rendah bila disandingkan dengan rekor tertinggi dalam periode sembilan pekan pada angka 1.483,9 per dolar AS yang sempat disentuh sebelumnya.
Gelombang pelepasan aset berskala besar mayoritas melanda kelompok saham semikonduktor yang memegang porsi bobot sangat dominan di dalam KOSPI.
Komoditas saham milik SK Hynix yang merupakan produsen chip memori untuk keperluan teknologi kecerdasan buatan (AI), sempat merosot tajam hingga menyentuh 11,7%, sementara itu korporasi Samsung Electronics melemah sebesar 8,9%.
Kedua emiten raksasa tersebut merepresentasikan di atas separuh dari total bobot indeks KOSPI, alhasil kemerosotannya memberikan dampak tekanan yang masif bagi kondisi pasar secara menyeluruh.
Di luar lingkup sektor produsen chip, pergerakan saham LG Energy Solution justru terpantau menguat sebesar 1,79%.
Pada sektor lainnya, saham Hyundai Motor mencatatkan penurunan sebesar 2,30%, sedangkan korporasi Kia Corp bergerak positif 0,69%.
Emiten manufaktur baja POSCO Holdings terkoreksi tipis 0,48%, dan saham dari korporasi bioteknologi Samsung Biologics menyusut sebesar 0,51%.
Ditinjau dari total 904 saham yang aktif ditransaksikan, terdata sebanyak 433 saham membukukan penguatan, 429 saham mencatatkan pelemaan, sedangkan untuk sisanya bertahan di posisi semula.
Kelompok pemodal internasional terdata membukukan aksi penjualan bersih terhadap saham dengan akumulasi nominal menyentuh 776,8 miliar won.
Kendati sempat diterpa tekanan serta tingkat fluktuasi yang tinggi dalam beberapa waktu belakangan, rapor performa KOSPI di sepanjang tahun berjalan ini sebenarnya masih berkategori sangat positif.
Indeks saham acuan milik Negeri Gingseng tersebut terhitung sudah melesat lebih dari 62% terhitung semenjak permulaan tahun, yang memposisikannya sebagai salah satu indeks saham dengan pertumbuhan terbaik di skala global.
Pada sektor pasar obligasi, nilai kontrak berjangka untuk surat utang pemerintah Korea Selatan dengan tenor tiga tahun bagi distribusi bulan September mencatatkan kenaikan sebesar 0,05 poin menuju level 102,86.
Tingkat imbal hasil (yield) untuk surat utang pemerintah dengan jangka waktu tiga tahun yang paling ramai ditransaksikan terpantau turun sebesar 0,1 basis poin menuju angka 3,858%, di sisi lain yield untuk obligasi dengan tenor 10 tahun merangkak naik 1,9 basis poin menjadi 4,332%.