JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah atas dolar Amerika Serikat (AS) beserta IHSG terpantau kompak melemah pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (13/7/2026).
Pada pembukaan sesi perdagangan Senin, rupiah terkoreksi sebesar 25 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp18.090 per dolar AS dari posisi penutupan di hari sebelumnya pada angka Rp18.065 per dolar AS. Sempat menguat di waktu pagi, pergerakan IHSG justru langsung berbalik ke zona merah.
Pelemahan nilai tukar rupiah ini terjadi setelah pada penutupan sesi perdagangan Jumat (10/7/2026) sore mata uang rupiah berhasil mencatatkan penguatan 63 poin atau 0,35 persen dari level Rp18.128 per dolar AS ke posisi Rp18.065 per dolar AS.
Kendati sempat melemah di awal transaksi perdagangan hari Senin, fluktuasi rupiah dinilai masih relatif aman dan stabil di tengah gempuran sentimen global yang memengaruhi pasar keuangan.
Selain memantau indikator ekonomi Amerika Serikat, para pelaku pasar juga mencermati eskalasi situasi geopolitik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Konflik di wilayah tersebut berisiko memengaruhi dinamika harga minyak mentah dunia serta mengerek ketertarikan para investor terhadap aset minim risiko (safe haven), termasuk dolar AS.
Di samping hal itu, arus keluar masuk modal dari luar negeri serta intervensi stabilitas yang ditempuh oleh Bank Indonesia diprediksi tetap menjadi aspek utama penentu arah gerak rupiah dalam jangka pendek.
Dengan mengalkulasi pelbagai faktor makro tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan bakal berfluktuasi pada rentang Rp18.000 sampai Rp18.128 per dolar AS selama sepekan ke depan.
Di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia pada Senin (13/7/2026) pagi mulanya sempat dibuka menguat sebesar 10,36 poin atau 0,17 persen menuju posisi 5.934, sementara indeks saham unggulan LQ45 naik tipis 0,03 poin atau 0,01 persen ke level 589,28.
Mengacu pada data Bursa Efek Indonesia (BEI) via RTI, hingga pukul 09.30 WIB indeks IHSG justru berbalik melemah 0,33 persen menuju level 5.904,86. Penurunan performa indeks ini dipicu oleh terkoreksinya sebagian besar indeks sektoral yang ada di BEI.
Akumulasi volume transaksi perdagangan menyentuh angka sekitar 1,67 miliar lembar saham dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp600,5 miliar. Tercatat ada 270 saham yang nilainya turun, 183 saham bergerak naik, sedangkan 238 saham lainnya stagnan tanpa mengalami perubahan harga.
Data transaksi tersebut mengindikasikan bahwa tekanan jual dari investor masih mendominasi jalannya pasar pada sesi awal.
Dari kelompok saham teraktif LQ45, beberapa emiten mengalami koreksi harga terdalam (top losers). Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) terpangkas 3,11 persen menuju level Rp2.490 per saham, disusul PT Darma Henwa Tbk (DEWA) yang melemah sebesar 2,96 persen ke angka Rp328 per saham, serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) yang menyusut 2,60 persen menjadi Rp1.685 per saham.
Sebaliknya, ada deretan saham yang berhasil menorehkan performa apik (top gainers), seperti PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang naik 2,47 persen ke posisi Rp1.660 per saham, PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA) yang menguat 1,74 persen menuju Rp585 per saham, dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang meningkat 2,13 persen ke level Rp1.200 per saham.
Sebagai catatan, pada penutupan perdagangan hari Jumat (10/7/2026) sore yang lalu, IHSG ditutup menguat 11,92 poin atau 0,20 persen ke level 5.924,36, sedangkan indeks saham LQ45 naik 1,88 poin atau 0,32 persen menuju level 589,25.
Tren penguatan indeks tersebut seirama dengan laju mayoritas bursa saham di regional Asia yang mendapatkan katalis positif dari perkembangan kondisi geopolitik internasional.