Bank Digital Pilih Tahan Bunga Deposito Saat BI Rate Naik Ini Alasannya

Bank Digital Pilih Tahan Bunga Deposito Saat BI Rate Naik Ini Alasannya
Ilustrasi BI Rate (sumber gambar: NET)

JAKARTA - Sejumlah bank digital mulai mengantisipasi aneka tantangan dan risiko dari adanya lonjakan suku bunga acuan BI Rate yang bergerak masif belakangan ini. Salah satu langkah taktis yang diputuskan oleh manajemen adalah dengan tidak menaikkan tingkat bunga deposito mereka guna mengamankan margin keuntungan.

Padahal, sebelumnya lini perbankan digital sangat lekat dengan strategi penawaran bunga simpanan yang tinggi untuk menjaring dana simpanan masyarakat. Kini, skema tersebut mulai diubah sejalan dengan tingginya ketidakpastian ekonomi di pasar.

Krom Bank menjadi salah satu penyedia layanan yang menerapkan skema tersebut. Saat ini, tingkat bunga deposito yang ditawarkan berada pada kisaran 6,5 persen sampai 8 persen. Nilai penawaran ini tercatat menurun jika dibandingkan dengan posisi pada akhir tahun lalu yang sempat menyentuh angka 7 persen hingga 8,25 persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa proses transmisi penurunan bunga simpanan sepanjang tahun lalu telah berjalan. Namun, di tengah situasi suku bunga tinggi seperti sekarang, pihak manajemen memilih untuk mempertahankan persentase bunga deposito yang berlaku saat ini demi menerapkan asas pengelolaan dana yang penuh kehati-hatian.

“Krom Bank akan tetap melakukan benchmarking secara aktif terhadap kondisi pasar dan pergerakan industri untuk menjaga keseimbangan antara daya saing penawaran dan keberlanjutan bisnis,” ungkap Anton. Di samping itu, demi menjaga grafik keuntungan, evaluasi mendalam mengenai dampak perubahan BI Rate serta penguatan tata kelola risiko akan terus ditingkatkan.

Saat ini fokus operasional diarahkan pada penghimpunan dana murah lewat optimalisasi ekosistem digital internal. Pada saat yang sama, penyelarasan dilakukan untuk memitigasi risiko kredit macet dengan tetap memegang prinsip manajemen risiko yang ketat dalam proses penyaluran pinjaman.

Potensi penurunan rasio margin bunga bersih juga ikut diamati setelah adanya kebijakan bank sentral menaikkan suku bunga acuan. Oleh sebab itu, efisiensi pada biaya dana menjadi prioritas utama agar margin bunga tetap stabil, sehingga penawaran bunga pinjaman bisa tetap kompetitif di pasar.

Langkah serupa turut diambil oleh Allo Bank yang masih mempertahankan suku bunga deposito mereka di angka 5,5 persen sejak akhir tahun lalu. Pihak manajemen menilai belum ada urgensi mendesak untuk mengubah suku bunga simpanan secara agresif dalam waktu dekat.

Evaluasi secara menyeluruh terus berjalan dengan memantau kondisi likuiditas internal, pola gerak nasabah, kompetisi pendanaan, hingga target penyaluran kredit ke depan. “Karena itu, pendekatan yang kami ambil adalah tetap fleksibel dan berbasis kebutuhan bisnis, bukan sekadar merespons perubahan BI Rate secara otomatis,” jelasnya.

Jika nantinya terdapat penyesuaian bunga simpanan, prosesnya akan dilakukan secara bertahap serta selektif berdasarkan jangka waktu tenor maupun kategori nasabah. Kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada dinamika likuiditas industri serta kebutuhan dana perbankan karena ketatnya persaingan perebutan dana di sektor digital turut menjadi perhatian.

Meski begitu, situasi pasar saat ini dinilai berbeda dengan kondisi beberapa tahun lalu karena likuiditas sektor industri masih berada pada level memadai dan pertumbuhan dana pihak ketiga secara umum sanggup mengimbangi kebutuhan kredit. Alhasil, risiko tekanan likuiditas jangka pendek dinilai belum mengkhawatirkan.

Kenaikan biaya dana memang diakui berpotensi memberikan tekanan pada margin bunga bersih. Namun, tata kelola profitabilitas perbankan dipastikan tidak hanya bertumpu pada sektor pendanaan saja, melainkan lewat optimalisasi aset produktif, peningkatan mutu kredit, perbaikan tingkat pengembalian, serta pemacu pendapatan komisi dari transaksi digital.

“Jadi apabila terjadi tekanan terhadap NIM, kami memperkirakan sifatnya akan tetap terkendali dan berada dalam koridor yang dapat dikelola. Fokus kami bukan semata mempertahankan NIM pada level tertentu, tetapi memastikan keseimbangan antara pertumbuhan kredit, kualitas aset, likuiditas, dan profitabilitas yang berkelanjutan,” katanya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index