Penyaluran KUR di Wilayah KPPN Malang Tembus Angka Rp2,822 Triliun

Penyaluran KUR di Wilayah KPPN Malang Tembus Angka Rp2,822 Triliun
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

MALANG — Realisasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) di wilayah kerja KPPN Malang tercatat berhasil menembus angka Rp2,822 triliun sampai dengan Mei 2026.

Kepala instansi keuangan setempat, Muhammad Rusna, memaparkan bahwa alokasi KUR tersebut didistribusikan kepada 41.530 debitur, yang merepresentasikan peningkatan 21,21% pada nilai penyaluran dan 2,27% dari aspek kuantitas nasabah secara tahunan.

“Daerah yang paling banyak menyerap KUR, Kab. Malang, yang mencapai Rp1,478 triliun,” katanya, Senin (8/6/2026).

Penyaluran pembiayaan di wilayah tersebut diperuntukkan bagi 21.982 nasabah, mencatatkan kenaikan sebesar 14,86% dari sisi nilai, namun mengalami penurunan sekitar 0,08% dari akumulasi jumlah nasabah.

Rincian realisasi penyaluran modal usaha pada wilayah lainnya adalah sebagai berikut:

Kabupaten Pasuruan menyerap Rp643,824 miliar untuk 11.238 debitur, naik 18,55% (penyaluran) dan 4,36% (debitur)

Kota Malang menyerap Rp445,140 miliar untuk 5.380 debitur, naik 52,76% (penyaluran) dan 14,37% (debitur)

Kota Batu menyerap Rp180,639 miliar untuk 1.855 debitur, naik 24,35% (penyaluran) dan 1,78% (debitur)

Kota Pasuruan menyerap Rp73,620 miliar untuk 1.075 debitur, naik 20,93% (penyaluran), namun turun -5,57% (debitur)

Sementara itu, untuk capaian penyaluran pembiayaan Ultra Mikro (UMi) secara keseluruhan dilaporkan menyentuh angka Rp133,277 miliar bagi 23.565 nasabah, atau tumbuh pesat sebesar 90,76% dari aspek nilai modal serta naik 60,99% untuk total penerima.

Rincian serapan untuk sektor pembiayaan mikro di berbagai daerah administratif meliputi:

Kabupaten Malang menyerap Rp62,4 miliar untuk 11.097 debitur, naik 69,74% (penyaluran) dan 41,60% (debitur)

Kabupaten Pasuruan menyerap Rp47,393 miliar untuk 8.300 debitur, naik 135,33% (penyaluran) dan 105,45% (debitur)

Kota Malang menyerap Rp11,665 miliar untuk 2.112 debitur, naik 46,40% (penyaluran) dan 17,40% (debitur)

Kota Pasuruan menyerap Rp8,281 miIiar untuk 1.422 debitur, naik 131,86% dan 106,99% (debitur)

Kota Batu menyerap Rp3,537 miIiar untuk 634 debitur, naik 147,90% (penyaluran) dan 130,55%

“Volume penyaluran KUR di semua daerah naik, hanya jumlah debitur di Kab. Malang dan Kab. Pasuruan justru turun,” ujarnya.

Seorang pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso, menilai akselerasi fungsi intermediasi finansial lewat instrumen KUR maupun UMi mengindikasikan sektor UMKM masih memiliki ketahanan kuat terhadap fluktuasi mata uang.

Meski demikian, ke depan terdapat tantangan yang berpotensi menghambat laju operasional mereka, seperti potensi lonjakan harga komoditas logistik mentah yang diperoleh dari jalur impor.

Oleh karena itu, situasi tersebut dinilai menjadi tanggung jawab bagi jajaran otoritas daerah bersama pemerintah pusat untuk menjamin kepastian pasokan barang serta memberikan proteksi tarif terhadap impor komoditas utama penopang UMKM seperti kedelai maupun bahan baku alas kaki.

Momen ini juga dinilai tepat untuk memperkokoh lini industri substitusi barang luar negeri agar tingkat ketergantungan komoditas impor dapat ditekan, sehingga relatif aman dari risiko depresiasi mata uang rupiah.

Di sudut lain, program stimulus permodalan terjangkau seperti KUR diimbau untuk terus digulirkan secara konsisten dengan memperluas cakupan penerima manfaat yang dibarengi penguatan program pendampingan usaha agar pelaku bisnis kecil mampu naik kelas.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index