JAKARTA - PT Bank Amar Indonesia Tbk mencatatkan pertumbuhan laba bersih 5,37 persen dari Rp 67,49 miliar pada kuartal I 2025 menjadi Rp 71,12 miliar di periode yang sama tahun ini.
Pertumbuhan positif tersebut salah satunya didorong oleh kenaikan penyaluran kredit sebesar 30,62 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 4,16 triliun di kuartal I 2026.
“Dalam industri perbankan, pertumbuhan yang sehat tidak hanya tercermin dari ekspansi kredit atau peningkatan laba, tapi juga dari kemampuan membangun infrastruktur pendanaan yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dari sisi penghimpunan dana, pihak perbankan mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sebesar 115,46 persen (yoy) menjadi Rp 2,91 triliun.
Capaian ini memperbaiki profil likuiditas, di mana rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) membaik menjadi 142,56 persen dari sebelumnya 235,04 persen.
“Profitabilitas ini didukung oleh struktur pendanaan yang berkelanjutan. Hal ini memberikan fondasi likuiditas yang lebih berimbang untuk mendukung ekspansi kredit ke depan tanpa mengorbankan stabilitas,” katanya.
Pendapatan operasional bank berkode saham AMAR ini juga meningkat 13,82 persen (yoy) menjadi Rp 527,76 militar, dengan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) naik 15,58 persen (yoy) menjadi Rp 370,2 miliar.
“Kombinasi dari pertumbuhan kredit dua digit dan ekspansi margin ini menegaskan model bisnis yang sangat terukur (scalable) dan menguntungkan dalam menyongsong sisa tahun ini,” ucapnya.
Pendekatan yang berorientasi pada nasabah (customer focused) menjadi strategi utama, dengan memanfaatkan teknologi dan analisis data (data insights) untuk merespon kebutuhan segmen ritel serta usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang dinamis.
Sejalan dengan itu, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) juga tetap terjaga di level 0,86 persen pada kuartal I 2026, menurun dibanding periode yang sama tahun lalu yakni 1,48 persen.
Penurunan NPL menunjukkan ekspansi kredit bank tetap dilakukan secara selektif dan prudent lantaran kualitas aset menjadi perhatian utama.
“Penurunan NPL di tengah pertumbuhan kredit menunjukkan bahwa Amar Bank terus menjaga disiplin risiko, termasuk dalam memperkuat proses analisis dan pengelolaan portofolio kredit,” ujarnya.
Dari segi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) berada di level 99,17 persen, jauh di atas ketentuan minimum regulator yakni 8 persen.
Capaian ini memberikan ruang bagi bank untuk melanjutkan investasi pada teknologi, pengembangan produk digital, serta penguatan manajemen risiko.
“Ke depan, Amar Bank akan terus memperkuat penghimpunan dana, menyalurkan kredit secara terukur, dan mengembangkan layanan digital yang relevan bagi nasabah ritel dan UMKM,” katanya.