JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak sideways pada perdagangan hari ini di rentang 6.000-6.300.
Pada perdagangan sebelumnya, indeks ditutup melemah tipis sebesar 0,05% ke level 6.127.
Laju indeks sempat menguat hingga level 6.230 seiring efektifnya rebalancing indeks MSCI periode Mei 2026.
Dari sisi teknikal, indikator Stochastic RSI melanjutkan pembalikan arah ke posisi pivot, sementara histogram negatif MACD tercatat terus menyempit.
Pelaku pasar saat ini tengah mencermati implementasi kegiatan pengapalan komoditas melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (DSI) yang mulai berlaku pada 1 Juni 2026.
Penerapan kebijakan tersebut menjadi masa transisi yang mewajibkan para pelaku usaha melaporkan kegiatan perdagangannya melalui badan tersebut.
“Investor akan memantau transparansi pelaksanaan kebijakan tersebut serta dampaknya terhadap kinerja emiten yang terkait dengan sektor komoditas,” tulisnya dalam riset.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada kebijakan pemerintah yang akan memberikan insentif perpajakan bagi para pelaku usaha.
Fasilitas tersebut menyasar eksportir yang menempatkan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di dalam negeri.
Fasilitas tersebut mencakup tarif Pajak Penghasilan (PPh) yang lebih rendah, dengan besaran tarif disesuaikan jangka waktu penempatan dana dan dapat mencapai 0%.
Kebijakan ini dinilai memberikan manfaat bagi pelaku usaha melalui pengurangan beban kewajiban, penawaran suku bunga kompetitif, serta pemanfaatan dana tersebut sebagai agunan kredit.
Di sisi lain, perbankan berpotensi memperoleh tambahan dana valuta asing serta peningkatan likuiditas.
Dari agenda data ekonomi, pelaku pasar kini menantikan rilis angka inflasi periode Mei 2026.
Angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 3,1% secara tahunan atau year on year (YoY) dari posisi 2,42% YoY pada April 2026.
Secara bulanan atau month on month (MoM), angka inflasi juga diperkirakan naik menjadi 0,2% dari posisi 0,13%.
“Pelaku pasar juga menunggu data neraca perdagangan April 2026 yang diproyeksikan mencatat surplus sebesar US$0,5 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus US$3,32 miliar pada Maret 2026,” lanjut riset tersebut.
Selain itu, indeks manufaktur PMI Indonesia pada Mei 2026 diperkirakan akan berada di level 49,1, atau mengalami penurunan dari posisi 49,5 pada bulan sebelumnya.
Data tersebut akan menjadi salah satu indikator penting yang dicermati oleh para penanam modal untuk melihat kondisi aktivitas industri manufaktur domestik.
Sementara itu, volume penjualan dinilai cenderung mengecil pada perdagangan akhir pekan lalu.
Adapun untuk posisi pergerakan indeks saat ini diperkirakan masih berada pada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam.
“Area koreksi yang dapat kami perkirakan berikutnya akan menguji ke 5.899 sekaligus area supportnya,” katanya.