JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan penurunan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari 0,93 persen menjadi 0,64 persen pada April terjadi seiring dengan optimalnya mesin penerimaan negara.
Purbaya mengatakan hal tersebut terjadi karena kinerja pajak dan bea cukai yang membaik dibandingkan sebelumnya.
"Kinerja pajak dan bea cukai membaik secara signifikan. Belanja saya tarik semuanya supaya merata di awal tahun dipercepat sementara bea cukai dan pajaknya baru mulai ngumpulin, belum maksimal. Tapi ketika April udah mulai jalan semua defisit yang tadi tinggi karena saya belanja cepat sekarang tertekan lagi ke 0,6 persen," jelas Purbaya.
Ia merinci pertumbuhan pajak pada dua bulan pertama sempat melesat hingga 30 persen.
Meski saat ini turun di angka 16 persen, ia memproyeksikan tren penerimaan negara akan kembali merangkak naik dan stabil di level 20 persen hingga akhir tahun.
Purbaya menepis analisis dari para pengamat media sosial yang memproyeksikan defisit dengan cara dikalikan secara linear.
Ia mengatakan pengelolaan APBN sangat dinamis dan dipengaruhi oleh siklus fluktuasi tertentu.
Pemerintah melakukan kalkulasi anggaran dengan prinsip kehati-hatian dan akan menjadwalkan evaluasi terhadap postur belanja pemerintah pada Juli 2026.
Langkah ini diambil untuk menakar proyeksi pergerakan angka defisit hingga penghujung tahun.
"Jadi kami harus hitung dengan hati-hati, nanti Juli saya evaluasi semua belanja pemerintah seperti apa dan akan kami lihat sampai akhir tahun defisitnya seperti apa, tapi yang jelas akan kami maintain defisit terkendali di bawah tiga persen," ungkap Purbaya.