Harga Perak Antam Melonjak Lagi Menembus Level Rp 51.000 per Gram

Harga Perak Antam Melonjak Lagi Menembus Level Rp 51.000 per Gram
Ilustrasi Perak (sumber foto: NET)

JAKARTA - Pergerakan nilai perak batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kini tengah menjadi sorotan tajam bagi para investor serta pengamat pasar logam mulia. Fluktuasi nilai komoditas ini terpantau sangat dipengaruhi oleh dinamika pasar internasional dan faktor ekonomi makro guna memproyeksikan potensi pergerakan ke depan.

Pada Selasa, 19 Mei 2026, nilai perak batangan Antam terpantau mengalami lonjakan yang cukup besar hingga sukses melewati level Rp 51.000 per gram. Lonjakan tersebut sekaligus melanjutkan tren penguatan yang sudah terjadi sejak hari sebelumnya setelah sempat merangkak naik secara tipis.

Mengenai detail nilainya, ukuran perak batangan 1 gram saat ini ditawarkan pada kisaran Rp 51.000. Di sisi lain, untuk ukuran lainnya seperti pecahan 250 gram sekarang menyentuh angka Rp 13.150.000, yang mana nominal tersebut tercatat belum termasuk dengan pengenaan pajak PPN sebesar 11%.

Sebagai catatan, pada Senin, 18 Mei 2026, harga komoditas logam mulia ini bertengger pada level Rp 49.650 per gram, setelah mencatatkan kenaikan senilai Rp 250 dari posisi sebelumnya yang berada di angka Rp 49.400 per gram.

Kenaikan tajam ini berlangsung di tengah kondisi pasar yang dinamis, salah satunya disebabkan oleh pelemahan mata uang dolar AS yang menjadikan aset logam mulia terasa lebih murah bagi para pelaku pasar di level internasional. Tren positif ini hadir setelah harga komoditas ini sempat anjlok sedalam Rp 4.800 pada Sabtu, 16 Mei 2026.

Faktor Penentu Harga Perak

Proyeksi mengenai nilai jual perak di pasar domestik maupun mancanegara sangat digerakkan oleh sejumlah faktor fundamental serta teknikal di bawah ini:

Permintaan Industri: Perak memegang peranan industrial yang krusial bagi teknologi mutakhir seperti panel surya, mobil listrik, serta komponen elektronik lantaran kemampuan konduktivitasnya yang sangat tinggi. Lonjakan serapan di sektor industri ini secara otomatis ikut mengerek nilai jual komoditas.

Kebijakan Moneter Bank Sentral: Kebijakan Federal Reserve (The Fed) mengenai suku bunga acuan memegang andil besar. Ketika tingkat suku bunga diturunkan, daya tarik investasi obligasi akan merosot sehingga para pemodal mengalihkan dana ke aset aman (safe haven). Rencana penurunan suku bunga inilah yang menjadi pendorong utama.

Kondisi Geopolitik dan Ekonomi Global: Konflik politik internasional serta ketidakpastian roda ekonomi di sejumlah kawasan seperti Timur Tengah mendorong para pelaku pasar untuk mengamankan kekayaan mereka ke dalam bentuk logam mulia.

Daur Ulang dan Produksi: Volume ketersediaan stok perak di pasar global yang bersumber dari hasil tambang baru maupun lewat proses daur ulang ikut menjadi penentu dalam menjaga stabilitas pasar.

Kekuatan Dolar AS: Pelemahan kurs mata uang dolar AS berbanding lurus dengan naiknya gairah belanja para investor global terhadap komoditas ini akibat nilai belinya yang menjadi lebih terjangkau.

Proyeksi Pasar Perak untuk Mei 2026

Melalui hasil analisis pasar secara makro untuk periode Mei 2026, fluktuasi nilai untuk komoditas ini diproyeksikan akan bergulir pada rentang US$ 72 sampai US$ 78 per ons troi.

Tingkat pergerakan harga diprediksi masih akan berjalan fluktuatif seiring munculnya sentimen baru terkait masa pergantian kepemimpinan pada bank sentral AS yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter ke depannya.

Perubahan nilai jual di ranah domestik nantinya akan terus menyesuaikan diri dengan arah fluktuasi pasar internasional sekaligus ketentuan harian yang dirilis oleh produsen logam mulia tersebut. Meninjau pergerakan harga secara berkala merupakan opsi paling tepat guna memperoleh data yang paling diperbarui.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index