Rupiah Berada di Posisi Rp17.521 per Dolar AS di Tengah Tekanan Pasar

Rupiah Berada di Posisi Rp17.521 per Dolar AS di Tengah Tekanan Pasar
Ilustrasi Mata Uang (sumber foto: NET)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau masih menunjukkan tren pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data yang dikutip dari Bloombergtechnoz pada Rabu, 13 Mei 2026, posisi rupiah sempat stagnan namun tetap berada di atas angka psikologis Rp17.519 per dolar AS.

Kondisi ini terjadi setelah mata uang Garuda mengalami koreksi cukup dalam sebesar 0,42 persen pada hari sebelumnya. Tak lama berselang, rupiah di pasar offshore kembali melanjutkan pelemahannya sebesar 0,01 persen ke posisi Rp17.521 per dolar AS.

Indeks dolar AS tercatat berada pada level 98,32, sementara mata uang di kawasan Asia bergerak variatif dengan kecenderungan melemah, khususnya won Korea Selatan. Kenaikan harga minyak mentah Brent ke posisi US$107,17 per barel turut menekan mata uang negara yang bergantung pada pasokan minyak.

Faktor eksternal dipicu oleh ketidakpastian konflik global yang belum menunjukkan tanda berakhir, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mengajukan kembali proposal perdamaian masing-masing. Di sisi domestik, minimnya sentimen positif membuat posisi tawar rupiah sulit menguat.

Investor saat ini cenderung bersikap negatif terhadap pasar Indonesia akibat ruang fiskal yang dinilai sangat sempit. Sesuai amanat undang-undang, defisit anggaran diwajibkan tetap berada di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Buto (PDB).

Keterbatasan ini memberikan dua pilihan sulit bagi pemerintah: melakukan pelonggaran batas defisit atau merampingkan skala program-program unggulan. Ketidakpastian arah kebijakan fiskal ini menjadi beban tambahan bagi pergerakan mata uang nasional saat ini.

Sentimen di pasar saham juga belum pulih sepenuhnya sejak MSCI Inc. memberikan peringatan mengenai potensi penurunan status Indonesia menjadi pasar frontier. Hasil rebalancing terbaru menunjukkan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets (EM) menyusut dari 0,68 persen menjadi 0,57 persen.

Perubahan bobot ini berdampak pada persepsi investor terhadap kualitas pasar keuangan, likuiditas, hingga kepastian regulasi. Indonesia berisiko mengalami penurunan kualitas modal di mana aliran modal keluar tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga melibatkan investor institusional jangka panjang.

Bank Indonesia telah melakukan intervensi untuk mengerem pelemahan, namun langkah tersebut sulit membalikkan arah tanpa adanya perbaikan fundamental. Terlebih lagi, cadangan devisa hingga April 2026 telah tergerus sebesar US10,27miliar,menyisakanposisiUS146,2 miliar.

Meskipun level cadangan devisa masih tergolong aman, pasar tetap khawatir terhadap berkurangnya bantalan eksternal di tengah lesunya kinerja ekspor. Kondisi ini diprediksi akan membuat pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini menjadi sangat terbatas.

Secara teknikal, nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan besar dan akan menguji area resistance di kisaran Rp17.509 hingga Rp17.584 per dolar AS. Analisis dari tim Panin Sekuritas menunjukkan indikator stochastic sudah memasuki area jenuh beli.

Meski tekanan beli terhadap dolar AS mulai jenuh, posisi indikator masih menunjukkan pola golden cross. Hal ini menandakan bahwa momentum penguatan dolar AS terhadap rupiah belum sepenuhnya berakhir dalam waktu dekat.

Peluang pelemahan rupiah tetap terbuka lebar, terutama jika harga minyak dunia terus merangkak naik atau sentimen global kembali memburuk. Jika level resistance di Rp17.584 berhasil ditembus, ruang pelemahan berpotensi berlanjut menuju area Rp17.990 hingga Rp18.053 per dolar AS.

Sebaliknya, area support terdekat berada pada kisaran Rp17.305 sampai Rp17.427 per dolar AS. Level support ini menjadi titik krusial untuk menahan tekanan agar depresiasi nilai tukar tidak merosot lebih dalam secara mendadak pada periode mendatang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index