Kredit Perbankan Diproyeksi Tumbuh 10 Hingga 12 Persen pada 2026

Kredit Perbankan Diproyeksi Tumbuh 10 Hingga 12 Persen pada 2026
Ilustrasi Kredit (sumber foto: NET)

JAKARTA - Prospek intermediasi industri perbankan nasional diyakini masih berada pada jalur yang solid. Kondisi positif ini tetap terjaga meskipun berada di tengah rezim suku bunga tinggi yang diterapkan oleh berbagai negara di dunia.

Analis Permata Institute for Economic Research (PIER) memproyeksikan laju pertumbuhan kredit akan tetap kokoh. Pertumbuhan tersebut diperkirakan berada di kisaran dua digit hingga akhir tahun mendatang.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebut ketahanan likuiditas perbankan menjadi motor utama. Hal ini memastikan ketersediaan dana untuk disalurkan ke sektor riil tetap terjaga dengan baik.

"Pertumbuhan kredit kami lihat masih akan positif di kisaran 10-12 persen, ditopang oleh kredit modal kerja dan konsumsi. Likuiditas perbankan (LDR) masih ample di level 84 persen, sehingga bank masih punya ruang ekspansi," kata Josua.

Meski ruang ekspansi terbilang leluasa, Head, Macro Economic & Financial Market Research Permata Bank Faisal Rachman memberikan catatan penting. Perbankan diimbau untuk mewaspadai rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).

Kewaspadaan terutama ditujukan pada sektor industri padat karya yang rentan terpukul oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi perhatian serius bagi pelaku industri.

Pemerintah diharapkan untuk terus menggulirkan kebijakan yang mampu menjaga daya beli masyarakat. Langkah ini penting demi memitigasi risiko rambatan dari guncangan ekonomi global di masa mendatang.

Di sisi lain, Josua memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga acuannya atau BI Rate pada level saat ini. Peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin diperkirakan baru terbuka di kuartal keempat.

Catatan untuk peluang tersebut adalah jika tekanan likuiditas global mulai mereda. Josua mengatakan, penguatan dolar AS secara global disebabkan kebijakan The Fed yang menahan suku bunga tinggi lebih lama.

"Kalau rupiah melemah, faktor utamanya adalah penguatan dolar AS secara global akibat kebijakan The Fed yang masih higher for longer. Di samping itu, ada demand valas korporasi domestik yang tinggi untuk repatriasi dividen," kata Josua.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index