Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Melambat pada Kuartal 2 2026

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan Melambat pada Kuartal 2 2026
Suasana gedung bertingkat di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan (suumber foto: NET)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 diproyeksikan akan mengalami tekanan yang memicu perlambatan.

Situasi ini muncul menyusul selesainya efek musiman perayaan Lebaran serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan dunia pada Selasa (12/5/2026).

Faktor utama pemicunya adalah kenaikan harga minyak mentah global dan situasi geopolitik yang memberikan beban pada nilai tukar Rupiah.

Merujuk pada data Mandiri Spending Index (MSI), aktivitas belanja warga mulai menunjukkan penurunan setelah sempat menyentuh angka 124,3 di bulan Maret.

Angka indeks tersebut terkoreksi menjadi 122,3 pada 5 Mei 2026 setelah mengalami penurunan selama lima minggu beruntun.

Ekonom Mandiri Institute, Andre Simangunsong, berpendapat bahwa proses normalisasi pada tahun ini tampak berjalan lebih perlahan.

"Di 2026 ini moderasi terlihat lebih gradual," ujar Andre Simangunsong, Ekonom Mandiri Institute.

Penyusutan konsumsi rumah tangga dalam periode ini dinilai lebih stabil apabila dibandingkan dengan pola belanja pada tahun lalu.

Meski begitu, sektor luar negeri tetap membawa tantangan bagi ketahanan ekonomi dalam negeri karena fluktuasi harga energi dunia.

Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Ari Rizaldi, mengungkapkan konflik Amerika Serikat dan Iran memicu harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel.

Kondisi tersebut berdampak pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang tercatat mengalami depresiasi sebesar 3,9 persen selama tahun berjalan 2026.

Bank Indonesia terus mengimplementasikan bauran kebijakan serta intervensi pasar guna memitigasi dampak dari volatilitas yang terjadi.

"Ke depan, tantangan global akan terus ada, namun di balik setiap tantangan juga terdapat peluang yang dapat dioptimalkan melalui strategi yang tepat. Dengan sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang akomodatif, kami meyakini pertumbuhan ekonomi dapat terus terjaga secara berkelanjutan," beber Ari Rizaldi.

Walaupun terdapat guncangan ekonomi makro, performa sektor perbankan di Indonesia terpantau tetap kuat hingga bulan Maret 2026.

Penyaluran kredit tetap tumbuh 9,49 persen secara tahunan dengan rasio kredit bermasalah atau NPL yang aman di angka 2,14 persen.

Data perbankan pun menunjukkan kenaikan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai 13,55 persen secara year on year.

Likuiditas di sektor keuangan juga dianggap masih cukup mumpuni dengan posisi Loan to Deposit Ratio (LDR) industri di level 84,63 persen.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index